Akidah Tiga Kuli

2024-09-26 22:30:55 Lain Lain

Tiga! Bukan karena Tiga Danau riset doktoral saya. Bukan. Namun tiga memang managable number, tentunya selain lima (panca), tujuh (sapta), lalu sepuluh (dasa).

Ya uraian dan deskripsi berikut ini upaya berlatih story telling. Tentunya Tiga Kuli ini bukan kisah atau cerita murni saya. Namun leluhur saya, si Mbah selalu membudayakan cerita ini ke para cucunya kala itu. Lantas seketika lebih dari seperempat abad, saya baru mengilhami dongen tersebut.

Seperti ujar Farid Stevy pada lirik post modernism: “tak ada lagi kebaruan, semua kata pernah dikalimatkan, pilih sisanya di udara, ucapkan lagi di mulutmu.” Dengan begitu maka saya memilih ucapkan lagi melalui narasi Akidah Tiga Kuli.

–––

Pernah dengar cerita klasik tentang tiga orang kuli? Ketiganya tengah sibuk menggali tanah untuk fondasi sebuah bangunan. Keringat menetes deras seiring berjalannya waktu terlebih saat matahari sedang memuncak dan mencurahkan panansnya. Baju, celana dan seluruh anggota tubuh ketiga kuli tersebut penuh dengan kotoran dan noda tanah yang digali. Pekerjaan yang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik ini masih akan berlangsung lama karena memang fondasi adalah bagian paling awal dari sebuah proyek.

Aktivitas mereka bertiga tampak sama, mereka juga memakai peralatan yang juga serupa. Pacul diangkat dan dihujam ke tanah agar tanah tergaruk dan galian terbentuk. Jika diamati terus-menerus, pekerjaan mereka cenderung monoton bahkan membosankan. Gali sini, gali sana, gali situ, gali lagi... dan terus gali. Benar-benar balada kuli penggali fondasi.

Perbedaan tampak saat ketiganya ditanya pertanyaan yang sama: "Bapak sedang mengerjakan apa, ya?"

Kuli pertama tanpa basa-basi dengan tatapan tanpa ekspresi berujar singkat: "Saya menggali fondasi bangunan." ...dan memang benar begitu adanya.

Selanjutnya giliran kuli kedua. Dia menjawab sambil menyeka peluh di dahinya dengan mimik wajah sedikit terganggu: "Saya menggali agar keluarga saya bisa makan."...lagi-lagi juga benar begitu adanya. Kuli kedua adalah suami dan ayah 3 anak yang bertanggung jawab. Dia bekerja apa pun asal halal dan secara rutin mengirimkan buah hasil jerih payahnya ke kampung. Sedikit saja yang disisakan untuk biaya hidupnya sehari-hari di tempat kerja.

Waktu pertanyaan yang sama diajukan ke kuli ketiga, ia tampak tidak mengerti kenapa ada yang tertarik dengan pekerjaannya yang teramat sederhana. Namun saat menjawab secercah senyum tulus mewarnai wajahnya: "Saya sedang membangun tempat ibadah agar banyak orang bisa berdoa dengan tenang." ...sekali lagi, jawaban ini benar juga.

Ketiga kuli menjawab dengan benar dalam versi masing-masing. Satu-satunya yang membedakan adalah tingkat kesadaran masing-masing saat menjawab pertanyaan tersebut. Kuli pertama melihat aktivitas sebagaimana aktivitas yang dijalankan. Saat menggali ya artinya menggali.
Jika pekerjaan bergeser ke aktivitas lain, kuli pertama hanya akan menyebut sebatas nama umum aktivitasnya.

Kuli kedua memilih untuk melihat aktivitas menggali tidak lebih dan tidak kurang sebagai mata pencaharian. Kesadaran akan kebutuhan hidupnya (dan keluarganya) membuat kuli kedua memilih untuk tidak melihat lebih jauh dari itu. Sekali lagi, pilihan ini sama sekali tidak salah, bahkan sangat layak disebut bertanggung jawab.

Kuli ketiga melihat pekerjaan menggali lebih dari aktivitas fisik. Sama dengan kuli pertama dan kedua, dia (dan keluarganya) juga punya kebutuhan hidup, tetapi kesadaran lebih tinggi memungkinkan kuli ketiga untuk meyakini perannya dalam mendirikan bangunan yang kelak akan dimanfaatkan sebagai tempat peribadatan.
Kesadaran ini membuatnya tidak melihat menggali sekadar sebagai aktivitas menggali ataupun juga sekedar sarana bertransaksi menukar kerja dengan uang. Kesadaran lebih tinggi memicu kuli ketiga bisa (lebih) menikmati keasyikan bekerja, (lebih) mempunyai kepedulian, (lebih) bertumbuh kembang dalam hidup dan menjalani peran yang dititahkan oleh Sang Pencipta.

–––

Ketiga kuli ini adalah gambaran makna bekerja bagi Anda, saya dan kita semua. Kata "kuli" bisa digantikan dengan profesi apa pun seperti geolog, mine pit, technical advisor, insinyur, KTT, general manager, direksi. Bisa juga dipakai untuk peran apa pun seperti ayah, ibu, kakak senior di kampus, junior, fresh graduate, dan seterusnya.

Pilihan bagaimana melihat pekerjaan dan peran dalam hidup tergantung pada pilihan kesadaran masing-masing. Manakah yang Anda pilih? Jawaban apa pun tidak salah-tetapi jawaban itu mengacu pada kesadaran yang Anda pilih.

Terkait dengan cerita sebelum ini, kuli pertama mungkin merasakan kebosanan luar biasa namun meyakini tidak punya pilihan lain. Kuli kedua bisa jadi merasa terpaksa melakukan pekerjaan dengan tuntutan fisik luar biasa, tetapi dia harus menghidupi anak-istri. Sementara sangat mungkin kuli ketiga yang merasa menikmati setiap ayunan pacul dan setiap tetes peluh yang keluar.

Kuli ketiga bukan sekadar bekerja. Kuli ketiga memilih untuk bekerja dengan sadar. Kuli ketiga terus menjadikar hidupnya sebagai bagian dari proses menjawab tiga pertanyaan abadi tersebut.

Menjawab ketiganya bukan soal cepat atau lamban. Bukan soal kapan dan apa. Menjawab ketiganya adalah sebuah proses seumur hidup.
Sebagalmana kull ketiga, menjawab ketiganya...

Butuh kesadaran.
Butuh pemahaman akan berbagai tingkat kesadaran.
Butuh memutuskan untuk sadar.
Butuh melatih kesadaran dalam berbagai situasi.
Butuh terus memutuskan untuk meninggikan kesadaran.

(SJN)

 

Sumber foto: Rtuc's Blog

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.