Dua Zaman Dua Cara, Belajar dari kecepatan Menangani Bencana

2025-12-18 10:17:26 Lain Lain

Dua Zaman, Dua Cara

Begitulah kita kira, 

Kalau kita baca kisah Jusuf Kalla saat tsunami Aceh 2004, rasanya seperti baca novel heroik.

saat itu Wapres marah besar.

“Ambil pistol, tembak gemboknya!”

Itu kalimat JK ke menteri yang ragu keluarkan bantuan karena prosedur.

 

Itu 2004.

Sekarang 2025.

Bencana datang lagi.

Tapi yang viral bukan aksi cepat, tapi statement Menteri Sosial:

“Donasi harus izin dulu.”

Ya, izin memang ada aturannya.

Tapi rakyat yang tenggelam, kedinginan, kelaparan—apakah masih sempat urus surat?

JK bilang waktu itu:

Saya tidak mau ada kata ‘tidak bisa’ karena prosedur. Kalau tidak sanggup, mundur saja!”

Besoknya, dia terbang ke Aceh, bawa uang tunai, beli kebutuhan di Medan.

Langsung.

Tanpa ragu.

 

Sekarang?

birokrasi, bukan ujian kemanusiaan.

Ini bukan soal siapa salah atau benar.

Ini soal hati.

Soal keberanian memimpin di saat genting.

 

JK pilih langkah revolusioner: revolusi birokrasi.

Sekarang, kita seperti kembali ke zaman “semua harus sesuai prosedur”.

Padahal saat bencana, yang dibutuhkan adalah kecepatan, bukan formalitas.

 

Mungkin sudah waktunya pemerintah belajar dari sejarah.

Bencana tidak butuh penjelasan panjang.

Bencana butuh tindakan.

 

Seperti kata JK:

“Saya yang bertanggung jawab nanti.”

Pemimpin sejati berani memikul risiko, bukan hanya memikul aturan.

Dari sini kita bisa belajar bagaimana merespon jika terjadi bencana. 

Link bacaan selanjutnya, klik

 

Penulis: Hasan Rosyadi

Disini kita mengambil hikmah dari sebuah peristiwa dimana kecepatan sangat penting dalam respon bencana. 

Sumber bacaan lebih jauh di kompas

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.