Hari itu, udara lembap khas pesisir Mahakam sudah terasa sejak kami turun dari kendaraan. Lapisan batuan yang tersingkap di hadapan kami tampak seperti lembaran buku sejarah raksasa—tiap guratan, tiap perubahan warna, adalah cerita proses bumi yang berlangsung ribuan hingga jutaan tahun.
Sebagai Ketua Khoiru Ummah saat itu, saya merasa momen ini lebih daripada sekadar kegiatan akademik. Ini adalah ruang pertemuan antara ilmu, persahabatan, dan rasa ingin tahu yang selalu membuat kami, para geolog, sulit berhenti tersenyum.

Tampak Pak Sugeng (Kajur dan Pembina KU saat itu),Bu Umi (saat itu wadek), Ibu Prof Sari (saat itu belum jadi rektor), Pak Prof Bambang P.,mas Dicky Haris (Saat itu sekretaris IAGEO) dan kedua calon ketua IAGEO periode ini (Mas Dion (98) dan Mas Dandy Hidayat (92).
Di samping saya berdiri para senior, para dosen, dan rekan-rekan yang kelak tokoh penting dalam perjalanan organisasi dan keilmuan geologi. Ada yang memegang field notebook, ada yang menenteng palu geologi, ada yang sibuk menjelaskan struktur batuan sambil menunjuk-nunjuk singkapan. Semuanya larut dalam suasana belajar yang santai namun penuh rasa hormat pada alam.
Di lokasi Delta Mahakam ini, kami mendiskusikan bagaimana sedimen dialirkan, diendapkan, lalu berubah menjadi batuan yang tersingkap indah di lereng kecil itu. Dari pola laminasi hingga arah arus purba—semuanya menjadi bahan obrolan seru yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain.
Saya selalu percaya bahwa belajar bumi tidak pernah cukup dari ruang kelas. Lapangan adalah laboratorium terbesar yang kita miliki. Di sinilah teori bertemu kenyataan; di sinilah mahasiswa dan alumni bisa menatap langsung proses geologi yang selama ini hanya muncul dalam diagram atau slide kuliah.
Melihat rombongan hari itu—penuh tawa, penuh diskusi, penuh rasa ingin tahu—saya merasa inilah esensi pendidikan geologi: mengasah pikiran, memperkuat persaudaraan, dan merendahkan hati di hadapan kebesaran bumi.
Fieldtrip ini mungkin hanya berlangsung satu hari, tapi maknanya panjang. Beberapa yang hadir saat itu kelak menjadi penentu arah organisasi, akademisi terkemuka, maupun penggerak komunitas geologi. Saya bersyukur hadir di tengah mereka, menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan generasi demi generasi.
Dan seperti biasa, setiap kali berdiri di depan singkapan, saya selalu teringat:
Bumi tidak hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dihargai
HRZ