Bayangkan ini: setiap hari, seluas 139 lapangan sepak bola hilang dari Aceh dan Sumatera. Bukan lapangan bola yang pindah tempat. Tapi hutan yang dibabat. Setiap hari. Selama 34 tahun terakhir.
Itu data Kompas. Keras. Nyata. Tak terbantahkan.
Saya membacanya sambil merinding. Bayangkan, dalam 34 tahun, Sumatera kehilangan hutan seluas dua kali Pulau Bali. Dua kali! Bali saja sudah luas. Ini dua Bali hilang begitu saja.
Lalu kemana perginya hutan-hutan itu?
Jawabannya membuat kita semua harus menunduk: sebagian besar berubah menjadi perkebunan sawit. Kita mengganti paru-paru bumi dengan komoditas ekspor. Kita menukar fungsi ekologi yang tak ternilai dengan rupiah yang, meski banyak, ternyata tak sanggup membeli kembali keseimbangan alam.
---
Sekarang, lihatlah Aceh dan Sumatera belakangan ini.
Banjir bandang. Tanah longsor. Rutin. Seperti tamu tak diundang yang selalu datang.
Kita sibuk menyalahkan hujan. "Curah hujan tinggi," kata ahli. "La Nina," kata yang lain.
Tapi pernahkah kita bertanya: kenapa dulu, saat hutan masih lebat, hujan deras sama turunnya, tapi banjir besar jarang?
Jawabannya sederhana: hutan itu seperti spons raksasa. Dia menyerap air hujan, menyimpannya, lalu melepasnya pelan-pelan ke sungai. Dia juga adalah "penjepit raksasa" bagi tanah. Akar-akarnya yang kuat mencengkeram tanah, mencegahnya meluncur saat diguyur hujan.
Sekarang spons itu kita sobek-sobek. Penjepit itu kita bongkar.
Air hujan yang jatuh langsung menghantam tanah gundul. Tidak ada yang menahan. Tidak ada yang menyerap. Langsung meluncur deras ke bawah, menghanyutkan segalanya, menjadi banjir bandang. Tanah yang tak lagi dicengkeram akar pun ikut larut, menjadi longsor yang mengubur apa saja di bawahnya.
Ini bukan lagi prediksi. Ini sudah menjadi laporan harian di berita-berita kita.
---
Data MapBiomas menunjukkan, dari 9,49 juta hektar hutan di tiga provinsi itu, tinggal 8,26 juta hektar pada 2024. Artinya, 1,2 juta hektar sudah raib.
Sumatera Utara penyusutan terparah: lebih dari 500 ribu hektar. Aceh menyusut 379 ribu hektar.
Lalu kita heran ketika Gayo Lues, Aceh Selatan, atau wilayah-wilayah lain di Sumatera kebanjiran?
Kita sudah menciptakan bom waktu ekologis. Dan sekarang bom itu mulai meledak, satu per satu.
---
"Tapi ada reboisasi!" mungkin ada yang berkilah.
Betul. Tapi data yang sama menyatakan: reforestasi tak sebanding dengan laju deforestasi. Penanaman kembali seperti menambal lubang dengan sejumput tanah, sementara kita terus menggali lobang baru yang lebih besar.
Ini seperti kebocoran kapal yang deras, tapi kita hanya menyediakan gayung kecil untuk menimba air.
---
Jadi, apa solusinya?
Pertama, kita harus berani jujur. Masalah ini bukan hanya urusan pemerintah atau pengusaha. Ini urusan kita semua. Setiap kali kita tak peduli, setiap kali kita membiarkan, satu petak hutan lagi hilang.
Kedua, penegakan hukum harus nyata. Bukan sekadar retorika. Hutan yang tersisa harus dilindungi dengan cara yang lebih cerdas dan tegas.
Ketiga, membangun dengan mempertimbangkan daya dukung alam. Jangan paksa alam. Dia akan balas memaksa kita dengan caranya yang dahsyat.

Aceh dan Sumatera adalah zamrud khatulistiwa. Jangan biarkan zamrud itu terkikis, berganti menjadi kubangan banjir dan puing longsor.
Kita membutuhkan hutan untuk bernapas. Untuk minum. Untuk hidup.
Jangan tunggu 139 lapangan bola lagi hilang besok. Saatnya berhenti. Saatnya memulihkan.
Sebelum alam meminta hutang kita dengan cara yang tak lagi bisa kita bayar.
Sumber Kompas yang ditulis ulang oleh penulis.
Penulis Hasan Rosyadi
Publikasi kerjasama IAGEOUPN X IAGI Digital Informasi