HUTAN KITA RUNTUH, Lalu?

2025-12-14 21:46:19 Lain Lain

Saya membaca data Kompas tentang hutan Sumatera yang lenyap itu dengan hati berat.

Lalu saya teringat pesan Nabi Muhammad SAW: “Bila hari kiamat tiba, dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka jika dia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah dia menanamnya.” (HR. Ahmad).

 

Lihatlah! Rasulullah mendorong kita untuk menanam, bahkan di detik-detik terakhir dunia. Tapi kita? Kita malah menebang. Setiap hari. Di Aceh dan Sumatera, kita tebang 99,46 hektar per hari. Setara 139 lapangan bola.

Itu bukan hanya angka. Itu pengingkaran terhadap perintah Nabi.

---

Allah SWT sudah mengingatkan dalam Al-Quran: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini seolah diturunkan khusus untuk kita hari ini. “Kerusakan di darat” itu sudah nyata: banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, di Sumatera Utara, menyapu rumah dan nyawa. Itu semua “disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”

Tangan siapa? Ya, tangan kita juga. Kita yang diam ketika hutan dibabat. Kita yang merasa tidak berdosa ketika alam dieksploitasi habis-habisan.

, “agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka.”

Sekarang kita sudah merasakannya. Banjir itu akibat. Longsor itu akibat. Apakah kita sudah “kembali (ke jalan yang benar)”?

---

Allah menegaskan dalam ayat lain:

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

 

Kita diperintahkan untuk tidak berbuat kerusakan. Membabat hutan seenaknya, mengganti hutan lindung dengan sawit yang rakus air, itu adalah “kerusakan di bumi” yang nyata. Kita melanggar larangan Allah yang jelas.

Lalu kita berdoa meminta keselamatan dari banjir? Memohon agar longsor tidak menimpa kita? Ibaratnya, kita menusuk badan sendiri dengan pisau, lalu berteriak minta tolong karena sakit. Tidakkah kita malu?

---

Islam memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah artinya pemimpin, pengelola, penjaga yang diberi amanah. Amanah itu meliputi menjaga keseimbangan alam, merawat, dan tidak mengeksploitasinya secara serakah.

Apa kabar amanah kita hari ini?

Dalam 34 tahun, kita kehilangan hutan seluas dua kali Pulau Bali di Sumatera saja. Sebagai khalifah, kita gagal. Kita lebih memilih jadi perusak daripada penjaga.

 

Hadis Nabi juga mengajarkan: “Tidaklah seorang muslim menanam suatu pohon atau menanam suatu tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari).

 

Nabi menjanjikan pahala sedekah bagi penanam pohon. Sebaliknya, apa ganjaran bagi penebang pohon tanpa hak, yang menyebabkan kerusakan? Tentu konsekuensinya berat, di dunia dan akhirat.

---

Maka, bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera ini harus kita baca dengan dua mata: mata data ilmiah dan mata keimanan.

Mata data ilmiah menunjukkan sebab-akibat yang nyata: deforestasi -> hilangnya penyerap air -> banjir bandang.

Hilangnya akar penahan tanah -> tanah longsor.

Mata keimanan melihatnya sebagai atsar (akibat) dari perbuatan kita yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menjaga alam. Ini adalah bentuk musibah yang seharusnya membuat kita intropeksi, kembali kepada fitrah sebagai khalifah.

---

Solusinya pun harus dua level:

 

1. Level Teknis: Hentikan izin baru di hutan primer dan gambut. Perketat pengawasan. Lakukan restorasi ekosistem secara masif dan serius. Bukan sekadar menanam, tapi menjaganya hingga tumbuh.

2. Level Spiritual: Kembali kepada ajaran agama. Sosialisasikan bahwa merusak hutan adalah dosa. Menjaganya adalah ibadah. Tanamkan bahwa setiap pohon yang ditebang tanpa haq akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

 

Kita tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah atau korporasi. Sebagai umat yang membaca ayat-ayat Allah, kita punya tanggung jawab untuk bersuara, mengingatkan, dan mengambil peran.

 

Mari kita jadikan bencana ini sebagai panggilan untuk tobat ekologis. Tobat dari sikap serakah. Tobat dari mengabaikan amanah sebagai khalifah.

 

Agar bumi Sumatera yang subur ini tidak lagi menangis karena ditebang. Agar anak cucu kita nanti masih bisa menikmati zamrud khatulistiwa, bukan warisan banjir dan longsor.

 

Allahu a’lam.

Penyusun Hasan Rosyadi

Publikasi Kerjasama IAGEOUPN X IAGI Digital Informasi

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.