---------
Bismillahirrahmanirrahim
Bersiap Raksasa Bangun
Oleh: Hasan Rosyadi
Saya baru saja membaca sebuah laporan yang tebalnya minta ampun. Tapi isinya, ibarat daging, pentingnya bukan main.
Ini soal hidup mati kita. Soal tanah yang kita pijak. Soal gempa.
Laporan ini bukan sembarang laporan. Ini evaluasi menyeluruh tentang Peta Gempa Nasional yang baru saja diluncurkan tahun 2024 kemarin. Peta yang mengubah cara pandang kita tentang bahaya di bawah kaki sendiri.

Dulu, tahun 2017, kita mengira sesar aktif di Indonesia itu "cuma" ada 273 buah. Sekarang? Melonjak jadi 401. Naik hampir 450 persen.
Bayangkan.
Wilayah yang dulu di peta warnanya putih artinya aman, damai, sentosa ternyata sekarang harus dikasih garis merah. Ada retakan di sana. Ada potensi guncangan di sana.
Itu baru yang di darat. Yang di laut lebih ngeri lagi.
Namanya Megathrust.
Istilah ini belakangan sering kita dengar. Tapi apa itu? Sederhananya: itu adalah tempat di mana lempeng samudra menyusup ke bawah lempeng benua. Seperti dua raksasa yang sedang panco.
Dulu, kita petakan ada 13 zona panco raksasa ini. Sekarang jadi 14. Ada satu "pemain baru" di utara Sulawesi: Palung Cotobato.

Tapi yang bikin saya dan harusnya Anda tidak bisa tidur nyenyak adalah dua nama ini: Mentawai-Siberut dan Selat Sunda.
Para ahli menyebutnya: Seismic Gap.
Bahasa gampangnya: "Utang Gempa".
Di Mentawai, gempa besar terakhir terjadi tahun 1797. Sudah 227 tahun yang lalu. Di Selat Sunda ini pintu gerbang Jawa lho terakhir tahun 1757. Sudah 267 tahun.
Padahal, lempeng buminya jalan terus. Tidak pernah cuti.
Setiap tahun, lempeng itu bergerak sekitar 5 sentimeter. Kalau dikalikan 200 tahun lebih, artinya ada "tabungan" dorongan sebesar 10 sampai 11 meter yang belum dilepaskan.
Pegasnya sudah ditekan sekencang-kencangnya. Tinggal menunggu "klik" sedikit saja, pegas itu akan mental.

Duaarrr!
Energi yang lepas bisa setara gempa Magnitudo 8.9 sampai 9.2.
Itu bukan sekadar angka. Itu GEMPA!
Dulu, ada perdebatan di kalangan ilmuwan. "Ah, lempeng di selatan Jawa itu tua. Dingin. Paling cuma 'merayap' pelan-pelan. Tidak akan bikin gempa raksasa seperti di Sumatera."
Tapi datanglah Profesor Kosuke Heki.
Beliau ahli dari Universitas Hokkaido, Jepang. Risetnya canggih. Bukan cuma pakai alat di tanah (GPS), tapi pakai satelit untuk memantau ionosfer di langit.
Ternyata? Jawa itu mirip Nankai Trough di Jepang.
Ada fenomena yang namanya Slow Slip Event (SSE). Lempengnya bergerak pelan, tanpa gempa, tapi justru itu bahayanya. Gerakan pelan itu mentransfer beban ke bagian yang terkunci.
Jadi, teori "Jawa Aman" itu runtuh. Jawa Tengah saja sekarang diprediksi punya potensi Magnitudo 9.1. Setara dengan gempa Tohoku Jepang yang bikin tsunami dahsyat tahun 2011 itu.
Lalu kita harus apa? Lari? Pindah planet?
Tentu tidak.
Jepang tahu mereka hidup di atas bom waktu. Tapi mereka siap. Bangunan mereka menari saat gempa, tidak rubuh.
Laporan riset ini memberikan resep yang jelas.
Pertama, standar bangunan (SNI) harus jadi harga mati. Bukan sekadar syarat administrasi buat IMB. Gedung di Jakarta, yang berdiri di atas tanah lunak (cekungan), harus diaudit. Jangan sampai saat gempa datang, gedung-gedung itu berayun terlalu kencang karena resonansi.
Kedua, sistem peringatan dini kita (InaTEWS) harus di-upgrade. Jangan cuma andalkan seismometer biasa yang bisa "bingung" kalau gempanya terlalu besar. Pakai metode Prof Heki tadi. Pakai kabel bawah laut.
Ketiga dan ini yang paling murah tapi paling sulit budaya kita.
Di Banten dan Jawa Barat selatan, kalau Megathrust Selat Sunda pecah, tsunami bisa datang dalam waktu kurang dari 20 menit.
Tidak ada waktu menunggu sirine. Tidak sempat update status WA.
Ingat rumus "20-20-20".
Kalau gempa terasa lebih dari 20 detik, segera lari dalam waktu 20 menit, cari tempat setinggi 20 meter.
Data ilmiah ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini alarm pagi..
Raksasa di bawah kaki kita sedang tidur panjang. Tapi dia pasti bangun.
Pertanyaannya: saat dia bangun nanti, kita sedang siap atau sedang terlena?
Penulis adalah
