(Kajian KU) Bukan menyelamatkan Bumi? tapi Menyelamatkan diri kita

2026-01-22 18:31:47 Lain Lain

Slogan itu ada di mana-mana. Gagah sekali: "Save the Earth". Selamatkan Bumi.

Seolah-olah Bumi ini makhluk lemah. Rapuh. Sedang sakit parah dan butuh pahlawan kesiangan bernama manusia untuk menyelamatkannya.

Maaf. Itu kesombongan tingkat Himalaya.

Dalam bahasa agama, itu sikap antroposentris yang melampaui batas. Merasa setara Tuhan yang bisa memusnahkan atau melestarikan ciptaan-Nya. Padahal, data sains dan teologi justru menampar kita dengan fakta sebaliknya.

Mari bicara sains dulu. Geologi.

Bumi ini sudah tua. Banget. Usianya 4,5 miliar tahun. Selama itu, planet ini sudah kenyang makan asam garam bencana. Dihantam asteroid? Sudah. Gunung meletus super-dahsyat? Pernah.

Sains mencatat setidaknya ada lima kali kiamat kecil (kepunahan massal). Yang paling ngeri terjadi 252 juta tahun lalu. Namanya The Great Dying. Sebanyak 90% makhluk laut punah.

Apa yang terjadi setelah itu? Bumi recovery. Memang butuh waktu lama—sekitar 10 juta tahun. Tapi Bumi kembali hijau. Kembali seimbang.

Artinya apa? Dinosaurus punah, buminya tetap ada. Lempeng tektonik tetap geser. Magma tetap panas.

Jadi, kalau hari ini kita bakar semua hutan dan bikin langit hitam oleh karbon, Bumi tidak akan mati. Buminya cuma akan "demam" sedikit. Lalu berubah jadi panas sekali. Mirip zaman Eosen.

Yang mati siapa? Ya kita. Manusia.

Kita ini spesies manja. Kita cuma bisa hidup nyaman di suhu tertentu. Kalau suhu naik 4 derajat saja, pertanian hancur. Kelaparan massal. Peradaban bubar.

Jadi, tolong dicatat: Kita tidak punya kapasitas menghancurkan Bumi. Yang kita punya adalah kapasitas membuat Bumi tidak betah lagi menampung kita.

Lalu, bagaimana ?

Sama saja. Al-Qur'an surah Ghafir ayat 57 sudah bilang: Penciptaan langit dan bumi itu jauh lebih dahsyat daripada penciptaan manusia. Allah itu Al-Qayyum. Maha Memelihara. Bumi dijaga oleh sistem-Nya yang super canggih.

Posisi kita di sini bukan pemilik. Kita cuma Khalifah.

Banyak yang salah kaprah soal istilah ini. Dikira Khalifah itu penguasa yang boleh mengeruk alam semaunya. Salah besar.

Khalifah itu manajer. Seperti manajer perkebunan. Pemilik kebunnya tetap Allah. Kalau manajer ini kerjanya merusak tanah, mencemari air, dan menebang pohon sembarangan demi untung cepat, Pemilik-nya pasti murka.

Manajernya bakal dipecat. Alias: punah.

Inilah yang disebut Fasad (kerusakan). Dalam Surah Ar-Rum ayat 41, mekanismenya dijelaskan sangat logis. Telah nampak kerusakan... disebabkan perbuatan tangan manusia.

Untuk apa? "Liyudhiqahum". Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatannya.

Ini semacam "Karma Ekologis". Kita buang plastik ke laut, ikannya makan plastik, ikannya kita makan. Racunnya balik ke kita. Kita bikin polusi udara, paru-paru kita sendiri yang jebol.

Bencana alam itu bukan tanda Bumi mau kiamat. Itu tanda Bumi sedang self-defense. Sedang bersih-bersih dari "virus" yang namanya perilaku serakah manusia.

Lantas harus bagaimana?

Ubah mindset. Jangan lagi genit bilang mau menyelamatkan Bumi. Buminya Allah itu Al-Matin (Maha Kokoh).

Fokus saja menyelamatkan peradaban manusia. Caranya? Jadilah Khalifah yang tahu diri.

Kita butuh Green Skills. Bukan cuma niat baik, tapi skill. Paham cara bertani tanpa meracuni tanah. Paham cara bikin energi tanpa bikin langit hitam. Ini soal Stewardship—kepengurusan yang bertanggung jawab.

Kita juga butuh Hikmah. Bijaksana. Tahu batas. Jangan boros air mentang-mentang air melimpah. Rasulullah SAW saja melarang boros wudhu meski di sungai mengalir. Itu prinsip konservasi modern yang sudah diajarkan 14 abad lalu.

Kesimpulannya sederhana.

Krisis iklim ini bukan ancaman bagi batuan atau lautan. Ini krisis eksistensial bagi cucu-cicit kita.

Kita harus berdamai dengan alam. Bukan demi alam itu sendiri, tapi demi kita. Kalau kita terus-terusan bikin ulah (Fasad), sistem kekebalan Bumi akan menendang kita keluar. Dan Bumi akan terus berputar. Tanpa kita.

Selamatkan diri kita. Sebelum terlambat.

Disusun Oleh Hasan Roayadi atau Hasan Ros @rosyadihasan

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.