(Kajian KU) Bukan Sekedar Sukses

2026-02-04 15:33:22 Lain Lain

Bukan Sekadar Sukses

Disusun oleh Hasan Rosyadi

 

Kita semua mengejar sukses. Itu wajar. Siapa yang tidak ingin karirnya moncer? Siapa yang tidak ingin bisnisnya untung?

Dalam bahasa Arab, sukses seperti itu disebut fauz. Menang lomba, itu fauz. Naik jabatan, itu fauz.

Tapi, ada satu hal yang sering luput. Bahagia.

Bahagia itu beda lagi. Bahagia itu farah.

Banyak orang sukses, tapi tidak bahagia. Banyak orang kaya, tapi tidurnya tidak nyenyak. Hatinya gelisah.

Lalu saya menyimak kajian Ustadz Adi Hidayat. Rasanya seperti disentil.

Ternyata, Allah SWT tidak memanggil kita untuk sekadar sukses. Tidak juga sekadar bahagia. Tuhan memanggil kita lima kali sehari untuk sesuatu yang lebih tinggi: Falah.

Falah itu gabungan keduanya. Sukses, ya bahagia. Kaya, ya tenang.

Itulah yang diteriakkan muadzin setiap hari: Hayya 'alal Falah. Mari menuju kemenangan sejati.

Dan panggilan ini ajaib.

Coba Anda bayangkan. Waktu shalat itu bergeser seiring matahari. Saat azan selesai di Jakarta, ia baru mulai di Palembang. Selesai di Palembang, mulai di Aceh. Terus bergeser ke India, Arab, Eropa, Amerika.

Artinya apa?

Selama 24 jam non-stop, di seluruh muka bumi ini, kalimat Hayya 'alal Falah tidak pernah berhenti berkumandang. Tuhan tidak pernah berhenti mengajak kita bahagia.

Lantas, apa kuncinya? Shalat.

Kata shalat itu satu akar dengan kata silah. Artinya koneksi. Sambungan.

Shalat adalah cara kita connect dengan Pemilik Segalanya.

Kita ini manusia. Serba terbatas.

Mata kita terbatas. Telinga terbatas. Tenaga terbatas. Saldo rekening pun terbatas.

Tapi Tuhan? Dia unlimited. Tidak punya batas.

Maka logika Ustadz Adi Hidayat masuk akal sekali: kalau kita mentok dengan segala keterbatasan kita, kenapa tidak minta tolong pada Yang Tidak Terbatas?

Hubungkan diri. Lakukan silah. Lewat shalat.

Tapi tunggu dulu.

Banyak orang salah kaprah. Mereka kira, begitu shalat, doa langsung tunai. Minta proyek gol, langsung gol. Minta jodoh, langsung datang.

Bukan begitu matematikanya.

Hadiah pertama dari shalat yang benar itu bukan uang. Bukan jabatan.

Hadiah pertamanya adalah: Ketenangan.

Itu mahal. Sangat mahal.

Anda boleh punya masalah seberat gunung. Proyek macet. Utang menumpuk. Tapi kalau hati Anda tenang, solusinya akan terlihat. Pikiran jadi jernih.

Lihat Nabi Zakaria. Istrinya divonis mandul. Sudah tua pula. Secara medis: mustahil punya anak.

Tapi beliau shalat. Beliau curhat di mihrabnya. Hasilnya? Allah beri keturunan. Logika manusia patah di hadapan kekuasaan Tuhan.

Lihat Nabi Yaqub. Kehilangan Yusuf, anak kesayangannya. Sedihnya luar biasa. Ke mana beliau lari? Ke sajadah. Innama asyku... "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahanku."

Jadi, kalau hidup Anda sedang ruwet. Kepala mau pecah. Jangan lari ke mana-mana.

Ambil air wudhu. Gelar sajadah.

Tumpahkan semuanya di situ. Menangislah. Biar air mata itu jatuh di atas sajadah.

 Falah.

Karena sukses tanpa ketenangan, itu palsu. Dan ketenangan itu, hanya ada di "koneksi" yang bernama shalat.

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.