Foto ini bercerita tentang kebahagiaan. Tentang hari jadi sebuah kampus, UPN “Veteran” Yogyakarta, yang ke-67. Sebuah perayaan. Ada pemberian penghargaan. Dosen berprestasi. Dan dua alumni berprestasi.

Saya tersenyum. Lalu diam. Merenung.
Dua nama alumni berprestasi itu disebut:
STJ Budi Santoso (Teknik Geologi ’90), Ketua IAGI dan Direktur PT. MIND ID.
Dan Seno Aji (’90 juga), Wakil Gubernur Kalimantan Timur.
Luar biasa. Prestasi mereka tak diragukan. Mereka adalah buah yang matang dari pohon bernama UPNVY.
Saya pribadi kagum dan bangga dengan mereka.
Tapi, saya ingin bertanya: Kriteria “berprestasi”-nya seperti apa?
Apakah skalanya harus setinggi itu? Harus Ketua Asosiasi profesional level nasional? Harus Direktur BUMN besar? Harus Wakil Gubernur?
Lalu, di mana alumni-alumni geologi UPN lainnya yang juga hebat?
Yang mungkin tidak menduduki jabatan mentereng, tetapi kontribusinya tak kalah besar?
Di mana mereka yang setiap hari meneliti batuan di laboratorium, menemukan potensi sumber daya baru, tapi namanya tak pernah masuk koran?
Di mana para konsultan geologi yang menyelamatkan proyek-proyek infrastruktur dari salah desain pondasi?
Di mana yang mengabdi sebagai dosen guru pengajar geologi di pelosok,menanamkan cinta ilmu bumi pada generasi muda?
Di mana yang berjuang di lapangan sebagai“penghuni” bor, menentukan titik-titik sumur yang menghidupi daerah kering?
Dimana para direktur yang bekerja mengatur regulasi pemerintahan?
Apakah prestasi hanya diukur oleh jabatan dan popularitas? Bukan oleh dedikasi, kebermanfaatan, dan ketekunan yang sepi dari sorotan?
Kenapa bukan mereka yang dulu aktif sebagai ketua himpunan, ketua alumni, pengurus kegiatan mahasiswa, yang mungkin justru mengorbankan waktu belajarnya untuk membangun jiwa kepemimpinan dan melayani teman-temannya?
Apakah pengabdian masa lalu itu tidak termasuk dalam pertimbangan “berprestasi”?
Ini bukan soal menyanggah kehebatan kedua alumni terpilih. Mereka sangat layak.
Ini soal cara kita mendefinisikan “keberhasilan”. Kita sering terjebak pada pencapaian yang kasat mata, yang gemerlap, yang mudah dikenali publik.
Padahal, kampus ini telah melahirkan ratusan, ribuan geolog yang tersebar, menjadi tulang punggung industri energi, mineral, dan lingkungan di negeri ini.
Merekalah sebenarnya pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga denyut nadi pembangunan.
Mungkin panggungnya terlalu kecil. Mungkin waktunya terbatas. Maka hanya dua yang bisa naik. Hanya dua yang bisa disorot. Sejujurnya ini kurang banyak sangat sedikit!
Lalu, untuk apa semua renungan ini?
Agar kita sadar. Bahwa penghargaan manusia itu selalu terbatas. Subjektif. Dan sering kali tak menjangkau semua yang sebenarnya layak.
Maka, sebagai alumni, sebagai manusia, berhentilah mengharapkan pengakuan. Berhentilah menunggu panggung untuk disebut “berprestasi”.
Bangkit, Bekerja, Berkarya, Berprestasi...
Bekerjalah dengan tulus. Abdikan ilmumu dengan ikhlas. Lakukan yang terbaik di bidangmu, sekecil apa pun itu di mata orang.
Lepaskan hasrat untuk diakui oleh kampus, oleh atasan, oleh dunia.
Karena satu-satunya pengakuan yang mutlak, yang Mahaadil, yang melihat setiap detil keringat dan niat tulus, hanyalah dari Allah SWT.
Cukuplah ridho-Nya sebagai tujuan. Cukuplah berkah dan rahmat-Nya sebagai harapan.
Selamat Dies Natalis, almamaterku. Terima kasih telah melahirkan banyak pejuang. Baik yang tersorot, maupun yang tetap hebat dalam sunyi.
Dan untuk kita semua: Mari terus mengabdi. Tanpa perlu mengharap piala. Hanya mengharap keridhoan dan rahmat dari Allah Yang Maha Melihat.
Penulis Hasan Rosyadi.
Publikasi IAGEOUPN X IAGI Digital Informasi.