Metamorfosis: Awalnya di STMA ke Kampus Bela Negara
Oleh: Hasan Rosyadi
Tanggal itu keramat. Tapi sering salah disebut.
Banyak yang mengira 2 Oktober 1958. Padahal bukan. Dokumen negara bicara lain. Akta kelahiran yang sah secara yuridis dan historis adalah 8 Oktober 1958.
Dasarnya kuat: Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran RI Nomor 139/Kpts/1958.
Jadi, kalau ada yang bilang UPN lahir tanggal 2, itu meleset enam hari. Yang melahirkannya pun bukan orang sembarangan. Bukan pihak swasta. Bukan yayasan partikelir.
Yang melahirkan adalah Negara. Lewat tangan Kementerian Veteran dan Demobilisasi.
Tujuannya jelas: mengubah para pejuang perang yang terbiasa memegang senapan menjadi pejuang pembangunan yang memegang pena dan teknologi. Sebuah "monumen hidup" (living monument) untuk para veteran.
Lalu, di mana tangis pertamanya pecah?
Bukan di gedung megah. Kuliah perdananya, yang digelar 15 Desember 1958, menumpang di Gedung STMA, Jalan Kusumanegara Nomor 1, Yogyakarta. Sederhana. Tapi dari kesederhanaan itulah lahir raksasa pendidikan bernama Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta.
Kampus ini unik. Mungkin yang paling unik di Indonesia.
Ia seperti hal yang terus bermetamorfosis. Tahan banting. Luar biasa lentur.
Bayangkan. Ia pernah mengalami tiga zaman dengan tiga status hukum yang berbeda total.
Pertama, Era Kedinasan (1958-1995).
Ia adalah anak kandung Dephankam. Statusnya Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK). Gagah. Pakaian seragamnya disegani. Papan namanya tertulis PTPN "Veteran". Dibiayai penuh oleh negara.
Kedua, Era Privatisasi (1995-2014).
Zaman berubah. Kebijakan "rasionalisasi" datang. Kampus ini "disapih" dari negara. Statusnya berubah menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pengelolaannya diserahkan ke Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman (YKPBS).
Apakah ia mati? Tidak. Justru makin mandiri. Makin kuat bertarung di pasar bebas pendidikan.
Ketiga, Era Renaisans (2014-Sekarang).
Ini puncaknya. Tanggal 6 Oktober 2014, Presiden SBY meneken Perpres Nomor 121 Tahun 2014. UPN "Veteran" Yogyakarta "pulang ke rumah". Kembali menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah Kemdikbudristek.
Jarang ada kampus yang mentalnya setangguh ini. Dari negeri, jadi swasta, lalu negeri lagi.
Lalu, bagaimana kualitasnya sekarang?
Sempat ada yang kaget. "Lho, kok akreditasi institusinya B?".
Tenang. Itu data lama. Itu potret tahun 2022 saat masa transisi administrasi dari PTS ke PTN yang memang rumitnya minta ampun.
Hari ini di tahun 2026 ini ceritanya sudah beda total.
Sejak September 2025, UPN "Veteran" Yogyakarta sudah memegang predikat UNGGUL.
Surat Keputusannya jelas: SK Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT No. 2726/SK/BAN-PT/Ak/PT/IX/2025. Berlaku gagah sampai 16 September 2030.
Jangan tanya soal Program Studinya (Prodi). Mereka sudah lari kencang duluan.
Lihat Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) nama baru dari FTM yang legendaris itu. Jurusan Teknik Geologi, Pertambangan, Perminyakan? Mayoritas sudah Unggul atau A. Merekalah "darah daging" kampus ini.
Lihat juga Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Jurusan Manajemen, Akuntansi? Sama saja. Mayoritas Unggul. Begitu pula di FISIP dengan Ilmu Komunikasinya, atau FTI dengan Teknik Kimianya.
Rapor merah? Tidak ada. Yang ada adalah rapor biru prestasi.
Struktur akademiknya pun tidak diam di tempat. Ia berevolusi.
Dulu kita kenal FTM (Fakultas Teknologi Mineral). Sekarang ada tambahan "Energi" di belakangnya: FTME.
Ini bukan sekadar ganti plang nama. Ini visi. UPN tidak lagi hanya bicara soal mengeruk bumi (ekstraksi), tapi juga bicara soal masa depan energi. Panas bumi. Energi terbarukan. Lingkungan.
Fakultas Ekonomi pun demikian. Kini menjadi FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Mengawinkan ilmu murni dengan terapan bisnis.
Di balik semua perubahan fisik dan administratif itu, ada satu yang tidak berubah.
Jiwanya.
UPN tetaplah Kampus Bela Negara. Bukan, ini bukan berarti mahasiswanya diajak angkat senjata atau baris-berbaris tiap pagi. Bela Negara di sini adalah mindset. Disiplin. Cinta tanah air. Kreativitas untuk bangsa.
Semboyannya masih terpatri kuat di dada setiap alumninya: Widya Mwat Yasa.
Artinya dalam sekali: Menuntut ilmu untuk didharmabaktikan bagi pembangunan bangsa.
Ilmu bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk menumpuk gelar. Tapi untuk yasa. Untuk membangun.
Dari gedung pinjaman di STMA tahun 1958, hingga menjadi PTN berakreditasi Unggul di 2026. UPN "Veteran" Yogyakarta membuktikan satu hal: Institusi yang didirikan dengan niat luhur pengabdian, tidak akan pernah lekang oleh zaman.

Ia terus hidup. Terus menyala. Seperti semangat para veteran yang mendirikannya.