Oleh: Hasan Rosyadi
Saya tertegun melihat gambar yang dishare di Story salah satu sahabat saya.
Gambarnya sederhana. Judulnya bahasa Inggris: "The Mining Value Chain". Rantai Nilai Pertambangan.
Tapi isinya seperti menampar wajah kita. Bolak-balik. Plak. Plak.
Gambar itu membagi nasib sebuah negara menjadi dua kutub. Kutub Kiri dan Kutub Kanan.
Di Kutub Kiri, isinya orang berkeringat. Ada gambar bor. Gambar truk raksasa. Gambar pabrik pengolahan awal. Tulisannya jelas: Exploration, Mining, Processing.
Di atasnya ada stempel merah: "Least Value". Nilainya paling rendah.
Siapa yang ada di situ?
Di gambar itu tertulis: Afrika. Tapi kita tahu, itu cermin. Kalau kita berkaca, wajah kitalah yang tampak di sana. Bertahun-tahun. Berpuluh-puluh tahun.
Kerja kita hanya menggali. Mengeruk perut bumi. Lalu menaikkannya ke kapal. Dijual. Selesai.
Kita merasa sudah kaya raya. Padahal kita baru saja menjual "Tanah Air" dalam arti yang harfiah: tanah dan airnya sekalian kita jual.
Lalu lihatlah Kutub Kanan.
Gambarnya lebih rapi. Ada gulungan baja. Ada mesin canggih. Dan di ujung paling kanan: ada gambar mobil, elektronik, produk jadi.
Di atasnya ada stempel hijau: "Most Value". Nilainya paling tinggi. Uangnya paling banyak di situ.
Siapa pemainnya? Gambar itu menulis dengan kejam: "Developed countries complete the chain". Negara maju yang menyelesaikannya.
Mereka tidak punya tambangnya. Tidak punya debunya. Tidak punya lubang bekas galiannya. Tapi mereka punya teknologinya. Mereka punya otaknya.
Mereka beli tanah kita dengan harga "kacang goreng". Lalu mereka olah. Jadi mesin. Jadi HP. Jadi mobil listrik.
Lalu barang itu dikirim balik ke sini. Kita berebut membelinya. Antre. Dengan harga selangit.
Tanahnya dari kita. Barangnya dijual ke kita. Untungnya buat mereka.
Kok kita mau?
Itulah paradoksnya.
Ada tulisan kecil yang menyedihkan di tengah gambar: "The value chain in Africa ends here, at best".
Rantai nilai di negara berkembang seringkali putus di tengah jalan. Mentok di Smelting. Paling banter jadi logam batangan. Belum jadi barang.
Kita sering terlena. Merasa sudah melakukan hilirisasi. Padahal baru setengah jalan. Dari menggali tanah, naik pangkat jadi tukang masak tanah. Belum jadi tukang bikin kue.
Kue ekonominya tetap dinikmati negara industri.
Dalam Islam, ada ayat yang sering dikutip ustaz saat ceramah: Wa anzalnal hadid. Kami turunkan besi. Di dalamnya ada kekuatan hebat dan manfaat bagi manusia.
Kata kuncinya: Manfaat.
Kalau besi cuma digali lalu dijual mentah, manfaatnya untuk siapa? Untuk pembelinya. Bukan untuk pemiliknya. Itu namanya belum bersyukur. Itu namanya kufur nikmat secara ekonomi.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Khoirunnas anfa'uhum linnas.
Kalau negara hanya jadi tukang gali, ia belum jadi "sebaik-baik negara".
Gambar ini adalah peringatan keras.
Hilirisasi yang sekarang didengung-dengungkan itu bukan pilihan. Itu keharusan. Harga mati.

(Bismillah Saya hanya menyampaikan ayat ayat Al Quran walau satu ayat, saya hanya menyampaikan ya... Supaya kita juga membaca Al Quran)
Sakit memang. Kita diprotes WTO. Kita dimusuhi Uni Eropa. Karena kita setop ekspor barang mentah.
Tapi biarkan saja. Kalau kita takut, kita akan selamanya terjebak di Kutub Kiri. Selamanya jadi kuli bangsa-bangsa.
Kita harus bergeser ke kanan. Masuk ke wilayah manufacturing. Masuk ke wilayah semi-fabrication.
Sulit? Pasti.
Butuh modal? Besar.
Butuh SDM pintar? Mutlak.
Tapi tidak ada jalan lain. Masak kita mau terus-terusan jadi bangsa yang bangga karena punya banyak lubang tambang, tapi miskin pabrik?
Lihat lagi gambar itu. Anda mau ada di kiri atau di kanan?
Kalau saya, bosan di kiri terus. Kita bisa!
Panas. Berdebu. Miskin pula.
Disusun dari berbagai sumber dan pendapat pribadi.