Nuklir Halmahera: Antara Cuan Nikel dan Cincin Api
Oleh: Hasan Rosyadi
Mimpi itu besar sekali: Net Zero Emission (NZE) tahun 2060.
Ambisi satunya lagi juga raksasa: Hilirisasi.
Terutama nikel. Kita tahu, dunia sedang gila nikel. Baterai mobil listrik butuh itu. Dan gudangnya ada di perut bumi Halmahera, Maluku Utara.
Pabrik-pabrik smelter pun berdiri. Masif. Mereka rakus listrik. Rakus sekali. Selama ini mereka pakai batubara. Murah, tapi kotor. Kalau mau produk nikel kita laku di pasar "hijau" Eropa atau Amerika, listriknya harus bersih. Batubara harus pensiun.
Lantas, pakai apa? Matahari? Angin? Kurang stabil buat industri berat. Beban dasar (baseload) harus kuat.
Muncullah usulan seksi itu: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Di Halmahera.
Konsepnya canggih. Pakai reaktor modular kecil (SMR). Namanya RITM-200. Buatan Rusia. Bisa di darat, bisa terapung di laut. Ini teknologi yang dipakai kapal pemecah es di Kutub Utara. Kuat. Efisien.
Secara ekonomi, ini masuk akal. Smelter butuh listrik stabil, PLTN menyediakannya.
Tapi tunggu dulu. Buka peta geologi. Saya jadi merinding.
Halmahera itu indah. Tapi di bawah tanahnya, ia "mengerikan".
Ia adalah pertemuan tiga lempeng raksasa yang saling seruduk: Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Istilah geologinya: subduksi ganda. Huruf "U" terbalik.
Di sana ada Sesar Sorong. Sesar geser yang sangat aktif. Laju gesernya 19 milimeter per tahun. Itu cepat sekali untuk ukuran geologi. Energi yang terkumpul di sana luar biasa besar. Sewaktu-waktu bisa lepas jadi gempa dahsyat.

Belum lagi gunung apinya.
Ada Gunung Dukono. Ini gunung yang tidak pernah "tidur" sejak 1933. Batuk terus. Muntah abu dan gas belerang. Bayangkan kalau gas korosif itu menghajar beton reaktor nuklir tiap hari. Atau abu vulkaniknya menyumbat filter pendingin mesin. Bisa celaka.
Ada juga Gunung Ibu dan Gamkonora. Dua-duanya punya riwayat ledakan eksplosif.
Lalu, diusulkan solusinya: PLTN Terapung. Di laut. Biar tidak kena gempa darat.
Ide bagus. Tapi ingat tsunami.
Di laut lepas, tsunami aman. Tapi Halmahera itu kepulauan. Banyak teluk sempit. Kalau ada gempa besar, tsunami datang dalam hitungan menit (near-field). Gelombangnya akan meninggi saat masuk perairan dangkal. Arusnya deras. Tali penambat kapal reaktor itu bisa putus.
Bayangkan reaktor nuklir seberat ribuan ton terhempas ke daratan. Siapa yang mau tanggung jawab?
Regulasinya pun kita belum punya. BAPETEN belum punya aturan main soal reaktor nuklir di atas kapal. Rumit.
Sekarang coba kita tengok ke barat. Kalimantan Barat.
Bumi di sana beda nasib. Kalbar duduk manis di atas Paparan Sunda (Sunda Shelf).
Tanahnya tua. Stabil. Keras.
Tidak ada gunung berapi yang marah-marah. Gempa? Sangat minim. Risiko tsunaminya pun rendah sekali. Kalaupun ada tsunami kiriman dari jauh (Palung Manila), butuh waktu 9 jam baru sampai. Sempatlah kita matikan reaktor dan ngopi dulu.
Masyarakatnya?
Survei bilang 87 persen setuju. Kenapa? Karena mereka capek. Capek defisit listrik. Capek beli setrum dari Sarawak, Malaysia. Mereka ingin mandiri. PLTN di sana bukan sekadar energi, tapi harga diri. Jaringan listrik (grid) pun sudah siap koneksi.
Ada satu lagi: Bangka Belitung.
Secara teknis, Babel ini "saudara kembar" Kalbar. Tanahnya granit. Keras sekali. Aman dari gempa. Cocok buat fondasi reaktor.
Tapi ada masalah sosial. Masyarakat di sana trauma. Sejarah panjang tambang timah membuat lingkungan rusak. Mereka skeptis. "Jangan-jangan nuklir ini bikin rusak lagi," pikir mereka. Penolakannya mencapai 52 persen.
Politik lokalnya juga panas dingin. Jadi, lupakan dulu Babel. Simpan buat cadangan masa depan.
Kesimpulannya jelas.
Jangan memaksakan menanam benih di tanah yang sedang "gempa".
Halmahera memang butuh listrik, tapi risikonya terlalu mahal. Taruhannya nyawa dan lingkungan.
Untuk Halmahera, manfaatkan saja panas bumi (geothermal). Di sana uap panas melimpah ruah. Lebih aman. Lebih cocok dengan geologinya.
Kalau pemerintah serius mau "pecah telur" nuklir, pergilah ke Kalimantan Barat.
Itu sweet spot. Titik manisnya. Secara geologi ia paling aman. Secara sosial ia paling siap.
Jadikan Kalbar pilot project. Buktikan sukses di sana. Baru rakyat percaya.
Ingat, transisi energi itu lari maraton, bukan lari sprint. Jangan sampai kita tersandung di kilometer pertama gara-gara salah pilih jalan.
Investasi itu butuh kepastian. Bukan perjudian dengan lempeng bumi.
Apalagi ini soal atom. Salah sedikit, urusannya panjang. Panjang sekali.
Disusun oleh Hasan Rosyadi