Panas Dingin di Bawah Selimut Es
Kita tahunya Greenland itu putih. Titik.
Isinya es melulu. Tebal. Dingin. Sunyi.
Ternyata kita salah. Atau setidaknya: kurang update. Di bawah selimut putih setebal 1,5 kilometer itu, tersimpan gejolak yang luar biasa panas. Juga harta karun yang bikin ngiler negara adidaya.
Saya baru saja menyimak laporan geologis tentang pulau raksasa itu. Isinya mencengangkan.
Ternyata, Greenland bukan sekadar bongkahan es yang diam. Ia bergerak. Ia hidup.
Dulu, jutaan tahun lalu, Greenland itu satu rumah dengan Skotlandia. Tetanggaan. Lalu terjadi "perceraian" alam. Kerak bumi retak. Greenland lari ke barat, Skotlandia diam di tempat. Terbukalah apa yang kini kita sebut Samudra Atlantik.
Dalam pelariannya itu, Greenland sempat bernasib sial: ia melintas tepat di atas "kompor" bumi.
Para ahli menyebutnya hotspot. Titik panas magma. Titik yang sama yang kini bikin Islandia sering meletus itu.
Bayangkan setrika panas. Lalu kain digeser di atasnya. Bekasnya pasti ada. Begitulah Greenland. Bagian bawahnya "luka". Terbakar. Meninggalkan jejak termal di batuan dasarnya.
Itu soal masa lalu. Bagaimana masa kininya?
Teknologi radar NASA telah menelanjangi apa yang ada di balik es itu. Hasilnya bikin geleng-geleng kepala.
Ternyata ada Grand Canyon di sana.
Ya, ngarai raksasa. Panjangnya 750 kilometer. Jauh lebih panjang dari Grand Canyon di Amerika. Ngarai itu dulu dialiri sungai purba. Kini, sungai itu masih mengalir, tapi terkubur es.
Belum cukup kejutannya.
Di bagian barat laut, radar menemukan lubang raksasa. Lebarnya 31 kilometer. Itu kawah. Bekas hantaman asteroid.
Bukan asteroid sembarangan. Ini asteroid besi. Menghantam bumi dengan kekuatan ratusan bom nuklir. Kawahnya masih "muda". Geologis bilang begitu. Mungkin baru 12.000 tahun lalu.
Di sungai yang mengalir dari gletser itu, ditemukan buktinya: Shocked Quartz. Pasir kuarsa yang strukturnya rusak karena tekanan maha dahsyat. Juga butiran kaca. Bukti adanya panas ekstrem instan.
Mengerikan. Tapi juga memukau.
Lantas, kenapa Trump dulu pernah nyeletuk ingin membeli Greenland?
Banyak yang menertawakan ide itu. Dianggap gila. Padahal, naluri bisnis Trump mungkin mencium bau uang.
Di sinilah letak ironinya.
Pemanasan global membuat es Greenland mencair. Itu kabar buruk buat lingkungan. Permukaan laut bisa naik 7 meter kalau es itu habis. Jakarta bisa tenggelam.
Tapi bagi pemburu harta, itu kabar baik.
Di balik es yang meleleh itu, tersingkaplah harta karun: Rare Earth Elements. Logam Tanah Jarang.
Anda tahu, dunia kini tergantung pada China untuk logam jenis ini. Baterai mobil listrik, HP, rudal canggih, semua butuh logam itu. China memegang kendali.
Greenland punya cadangan terbesar kedua di dunia.
Pantas saja mata dunia kini tertuju ke sana. Dari Amerika sampai China sendiri.
Greenland kini seksi.
Ia menyimpan sejarah 3 miliar tahun lalu—saat ikan purba mulai belajar jalan di darat. Ia menyimpan bangkai pesawat perang dunia. Ia menyimpan luka hantaman asteroid.
Dan kini, ia menyimpan kunci energi masa depan.
Alam memang selalu punya dua wajah: ia bisa membunuh kita dengan naiknya air laut, tapi ia juga menggoda kita dengan harta yang tersingkap karenanya.
Kita pilih mana?