Seksinya Halmahera
Oleh: Hasan Rosyadi
Halmahera itu seksi.
Bentuk pulaunya saja sudah unik. Keriting. Seperti huruf K yang ditulis dengan tangan gemetar. Di situlah kini masa depan ekonomi Indonesia dipertaruhkan. Besar-besaran.
Saya baru saja membaca laporan lengkap soal pulau ini. Isinya ngeri-ngeri sedap. Di satu sisi, ada harta karun nikel yang membuat dunia ngiler. Di sisi lain, ada harta karun energi yang justru masih tertidur pulas.
Nama harta tidur itu: Panas Bumi.
Anda tahu, Halmahera itu berdiri di atas “kompor” alam. Secara geologi, dia terjepit tiga lempeng raksasa. Filipina, Eurasia, Indo-Australia. Tabrakan itu melahirkan deretan gunung api. Di bawahnya, ada waduk uap panas yang tekanannya luar biasa.
Data surveinya bikin geleng-geleng kepala.
Ada Lapangan Jailolo di Halmahera Barat. Potensinya hampir 100 Megawatt. Suhunya di atas 200 derajat Celcius. Ada lagi Songa Wayaua di Pulau Bacan. Potensinya lebih gila: 140 Megawatt. Suhunya tembus 250 derajat. Itu panas sekali. Bisa memutar turbin apa saja.
Masih ada Gunung Hamiding di Utara. Potensinya 175 Megawatt.
Total jenderalnya ratusan megawatt. Itu harta karun energi bersih. Green energy. Gratis dari perut bumi.
Lalu, berapa yang sudah jadi listrik?
Nol.
Anda tidak salah baca: Nol MWh.
Padahal, di pulau yang sama, konsumsi listriknya sedang meledak. Gara-gara hilirisasi nikel.
Di Sebut aja A Y, lalu di I, pabrik-pabrik pemurnian nikel tumbuh bak jamur di musim hujan. Mereka butuh listrik raksasa. Untuk melelehkan tanah merah menjadi feronikel. Untuk memproses bahan baku baterai mobil listrik.
Darimana listriknya? Batubara.
PLTU captive. Pembangkit milik sendiri.
Kapasitasnya bukan main-main.Sebut saja B saja bisa tembus 4 Gigawatt. Itu 4.000 Megawatt. Setara dengan separuh kebutuhan listrik satu pulau Jawa zaman dulu kala.
Inilah paradoksnya.
Kita memproduksi nikel untuk mobil listrik. Tujuannya supaya dunia bebas emisi karbon. Supaya langit biru.
Tapi, cara memproduksinya justru mengepulkan asap hitam batubara di Halmahera. Mulai deh yang baca pada migren...
Produk akhirnya "hijau", tapi prosesnya "hitam". Bingung kannnnn...
Kenapa tidak pakai panas bumi saja? Bukankah "kompor"nya ada di sebelah rumah?
Ternyata tidak sesederhana itu kawan.
Investor smelter itu pebisnis murni. Mereka butuh dua hal: Cepat dan Stabil.
Membangun PLTU batubara itu cepat. Dua tahun jadi. Pabrik bisa langsung ngebul. Cuan langsung mengalir.
Membangun PLTP (Panas Bumi)? Ampun djago. Butuh 7 sampai 10 tahun. Mulai survei, bor eksplorasi (yang risikonya minta ampun), studi kelayakan, baru bangun power plant.
Investor nikel tidak sabar. Keburu harga nikel turun. Keburu teknologi baterai berubah.
Apalagi lokasinya tidak pas. Panas buminya di Barat dan Utara. Pabrik nikelnya di Tengah dan Selatan. Belum ada kabel transmisi yang menyambungkan mereka. Putus hubungan.
Ada masalah teknis juga. Di Jailolo misalnya, uap panasnya bercampur air laut. Seawater mixing. Itu musuhnya insinyur. Pipa bisa karatan dalam sekejap. Perlu logam khusus. Biayanya mahal.
1.jpg)
Pemerintah sebenarnya sudah sadar. Terbitlah Perpres 112 tahun 2022. Judulnya serem: Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan. Isinya melarang PLTU baru.
Tapi ada "tapinya".
Pasal 3 ayat 4. PLTU baru boleh dibangun asal... untuk industri yang memberi nilai tambah. Asal berkomitmen menurunkan emisi 35% dalam 10 tahun. Asal berhenti total tahun 2050.
Jadilah PLTU di Halmahera itu legal. Halal secara regulasi.
Kabar baiknya, industri di sana mulai begerak ke EBT. Perusahaan besar disana janji mau bangun Pembangkit Surya (PLTS) sampai 2 Gigawatt. Satu lagi di Obi juga sudah mulai pasang panel surya ratusan megawatt.
Itu langkah maju. Tapi matahari hanya bersinar siang hari. Malam hari? Tetap batubara. Padahal pabrik smelter tidak pernah tidur.
Solusinya? Interkoneksi.
Harus ada "jalan listrik" yang menghubungkan sumber panas bumi di Jailolo dan Hamiding ke kawasan industri di Weda dan Obi.
Memang mahal. Memang sulit. Tapi kalau itu tidak dilakukan, harta karun di bawah tanah Halmahera itu akan tetap jadi dongeng geologi semata.
Dan nikel kita akan terus dicap sebagai "nikel kotor" oleh pasar Eropa.
Sayang sekali. Panasnya kompor sudah tersedia, tapi kita masih sibuk. Sibuk apa?
Ketika mulai banyak kata hmm, ooo setelah membaca ini. Saya beropini secara berimbang dan mengajak untuk berfikir kedepan. Bagaimana kita mencari solusinya.
Hasan Rosyadi