Tas Jinjing Kuning

2016-06-08 05:03:36 Lain Lain

"Hey tunggu…"

"Jangan lari…"

Anak kecil ingusan, perut buncit itu lari kabur terbirit-birit. Sampai-sampai ingusnyapun tak sempat ditarik masuk ke lubang hidungnya yang besar. Abu beterbangan dari balik tumitnya yang tak beralas karet. Dia tergopoh-gopoh menenteng jerigen air lima liter. Air memercik membasahi tanah dari jerigen air yang susah payah dijinjingnya dari tadi hanya untuk menyelamatkan diri dari aku yang dianggap ancaman.

“Sial!” dalam hati mengumpat.

“Padahal aku cuma ingin bertanya di mana anak kecil tadi mengisi air dalam jerigennya itu.”

Suasana kembali sunyi, angin bertiup di sela-sela rumput ilalang. Sesekali suara angin terdengar dari gesekan ilalang kering dan dahan dari hutan kecil di ujung sana. Begitu misterius tanah tandus yang menghampar di hadapanku ini.

Baru pukul 09.00 Waktu Indonesia Timur, sengatan panas matahari asyik sekali menjilati kulitku. Kulitku mulai kering kerontang, dijilati hawa panas matahari.

Terik tetap tak mau berdamai, batu-batu berteriak kepanasan. Fatamorgana bermunculan di hamparan padang. Sepertinya Dewa Bumi sedang melaksanakan upacara panggang batu, dalam perut bumi. Uap panasnya keluar melalui lubang-lubang batugamping yang tergolek di atasnya.

“Ah, panas sekali”

Menggerutu.

Namun batinku damai menikmati kesunyian misterius di padang keemasan ini. Segerombolan kuda asik merumput. Meski terlihat mereka seperti memakan debu dan kerikil saja di hamparan kering itu. Begitu asik sampai lupa diri, tidak menyadari kehadiranku. Tak tega rasanya mengganggu mereka dengan menghidupkan kembali kuda besi bermesinku. Kuda mesin buatan Jepang tahun 1994. Sudah pasti suara ringkikan kudaku akan mengagetkan mereka. Keheranan karena melihat spesies kuda aneh.

Tapi apa dayaku, terpaksa kuhidupkan. Aku terlahir di kota, dibesarkan dengan segala kemudahan. Kaki karunia Tuhan ini sudah manja untuk berjalan kaki jauh-jauh. Mau dibilang apalagi, sampai-sampai pekerjaan lapangan sekarang, masih bermanja ria menggunakan kuda besi bermesin.

“Dasar pemalas dan takut capek”.

Setidaknya kuda besi ini bisa mengurangi bau badanku akibat berkeringat karena harus berjalan kaki di bawah terik mentari yang sebetulnya sehat ini.

“Brum….! Brum…!“

Kudaku meringkik, kutarik pedal gas.

Belum sempat kupacu kuda besiku. Kulihat seorang pria jangkung berjalan kaki menuju kearahku. Tangan kanannya menjinjing tas kuning, norak dan kucel. Bahan kainnya juga murahan.

“Pasti jarang sekali dicuci”

Menduga-duga.

Tangan kirinya asik melenggang. Sesekali diangkat kemulutnya. Seperempat detik kemudian asap mengebul dari mulut dan hidungnya, seperti banteng marah.

Bahasa tubuhnya kalem, lebih tepatnya lemas. Tenggelam dalam pengamatanku, tiba-tiba si pria jangkung sudah berjarak sepuluh langkah dari hadapanku.

Rupanya terlihat jelas, raut keras, seolah-olah capek memecahkan persoalan runyam dalam hidupnya. Mukanya meringis menahan sengatan terik matahari. Raut wajah tersebut seketika hilang, tergantikan senyumnya yang tulus. Seolah masalah yang berkecamuk tak lagi jadi soal. Berubah menjadi wajah pengabdian tanpa pamrih. Sungguh kekuatan senyum yang langka sekali kutemukan di kehidupanku.

“Selamat pagi !“

“Selamat pagi !”

“Sedang apa anak muda?”

“Saya hendak survey sumber-sumber air yang ada di sekitar desa ini bapa”

“Sumber air yang bagaimana anak muda ?” ujarnya dengan lembut.

“Yang ada di dalam gua, apakah banyak di sini bapa?”

Begitulah fungsiku di sini. Sengaja diterbangkan ke Sumba dari Jakarta untuk meneliti kemungkinan air yang berada dalam gua. Aku sang penelusur gua, kebetulan geologiwan. Penelusur lorong gelap abadi bawah tanah.

“Memang kebanyakan orang kampung mengambil air dari dalam gua-gua. Tidak ada sungai mengalir di atas padang di sini, yang ada hanya rumput ilalang dan bongkahan batu bolong-bolong,” dia memperjelas.

Aku memahaminya. Sebelum ke desa ini, telah kupelajari kondisi batuan penyusun alam tandus yang sunyi ini. Aku baca dari Peta Geologi yang kubawa. Ternyata benar, terbukti bahwa batu karang bolong-bolong yang menyusun lahan tandus itu adalah batugamping. Batu berkapur yang berongga didalamnya, bolong-bolong akibat terkikis air. Sehingga air lebih senang bersarang di rongga-rongga tersebut, rongga-rongga misterius yang manusia tak dapat mengetahuinya secara pasti tanpa menelusuri lorong sunyi gelap abadinya, lorong gua.

“Wah kalau begitu baiklah bapa”

Aku mengeluarkan peta dari dalam tas ranselku.

“Apakah bapa tahu lokasi sumber air di sekitar Desa Kenduwela?”

“Saya tahu semua lokasi sumber air di sini anak muda,” tanpa memperhatikan peta yang aku tunjukan.

Awan diatas kepalaku bergerak ditiup angin, secepat itu pula raut mukaku menjadi ceria. Akhirnya dua hari survey tanpa hasil ini kutemukan penolongku yang dapat memberikan informasi dimana sumber-sumber air itu berada. Tanpa basa-basi lagi aku langsung meminta lelaki jangkung itu menunjukkan diatas peta letak lokasi sumber-sumber air yang diketahui olehnya.

“Maaf anak muda, apakah anak muda nanti tidak kesulitan kalau pergi sendiri ?”

“Mmm…Kemungkinan bisa bapa”.

Suaraku terdengar ragu-ragu. Takut kejadian sebelumnya akan terulang. Anak-anak akan lari ketakutan karena melihat orang asing. Mungkin orang dewasa di kampung juga tidak dapat berkomunikasi denganku karena tidak bisa berbahasa Indonesia.

“Begini saja, besok anak muda datang saja ke SD Paralel Kenduwela jam 09.30 pagi. Saya tunggu di sana, Saya akan antarkan langsung ke lokasi-lokasi sumber air yang saya tahu. Kebanyakan penduduk di sini tidak bisa berbahasa Indonesia, nanti anak muda bakal kesulitan berkomunikasi, alangkah baiknya saya menemani besok.” Lelaki jangkung ini membaca pikiranku dan tanpa ragu langsung menawarkan bantuannya.

Lekas-lekas aku menerima bantuannya. Kami sepakat untuk bertemu di SD Paralel Kenduwela besok pagi. Aku mencatat petunjuk jalan menuju lokasi yang dimaksud.

“Maaf bapa, saya sampai lupa”

Cengengesan tak tau malu, menjulurkan tanganku.

“Perkenalkan nama saya Fredy”

“Imannuel, biasa disapa Bapa Guru”

“Oh, bapa ternyata seorang guru?”

“Iya, Saya guru SD Pararel di tempat besok kita bertemu,” sembari senyum.

“Baiklah bapa, sampai bertemu besok, terima kasih bapa”

Pamitan undur diri. Menendang pedal dan menarik karet di kuping kuda besiku. Sebelum bergerak laju aku sempat menoleh lagi ke bapa guru Imanuel, Ia mengangguk tersenyum. Kulirik sekilas lagi tas jinjing kuning murahannya. Aku kembali ke Waitabula, jaraknya 22 km dari Desa Kenduwela, tertulis di petaku.

Kurebahkan badanku yang terpanggang matahari di atas kasur kapuk. Sambil menunggu kantuk. Hatiku harap-harap cemas ”Apakah mungkin aku menemukan sumber air yang berpotensi untuk di kembangkan di lahan tandus tadi? Bagaimana SD Paralel Kenduwela?”

Zzz…Zzz…

***

Pagi hari yang cerah.

Tak sabar menjelajahi tanah tandus Kodi. Cepat-cepat aku seruput teh hangat buatan mama Martha, ibu kosku. Kupikul ransel penuh peralatan survey. Keluar kamar dan memhampiri dapur rumah ibu kosku.

“Mama, saya pergi dulu ke Kodi”

“Hati-hati ya.., jangan pulang malam, bahaya”

Ia mulai berkelakukan seperti ibu yang cerewet.

“Brum…Brum…!”

Ringkikan Kuda Besiku menebar kebisingan. Kutarik sekali lagi kuping kuda besiku, melaju serampangan.

Sebelum berbelok ke jalan utama menuju lokasi, aku berhenti sarapan di warung makan. Pemiliknya lelaki Solo beristrikan wanita Padang. Ternyata dipelosok timur Indonesia ini masih kutemukan kaum mereka.

“Betul-betul perantau ulung”.

Manusia dari dulu memang suka bepergian, apalagi atas alasan ekonomi. Sebuah dasar tolak kaum-kaum merantau ke tanah kaum lain mengejar kehidupan yang lebih baik.

“Apa sudah habis sumber penghidupan di tanah mereka sendiri?” Sambil lalu pikiranku bergerilya.

Setelah membayar, kembali menarik kuping kuda besiku, melaju melintasi jalan mulus aspal menuju lokasi.

Pohon Jati berjajar-jajar di tanah Perhutani. Sesekali berganti pemandangan pemukiman. Banyak batu kubur besar-besar di halaman tiap rumah. Sisa budaya megalitikum masih diamalkan disini. Segerombolan warga duduk-duduk di pertigaan-pertigaan jalan masuk kampung. Para lelaki mengenakan Kapauta di dahi, kain tenun ikat di pinggang, parang terselip di pinggangnya. Perempuan menggenakan kain sarung hitam, bagian bawahnya bermotif khas sumba, atasan baju polos biasa. Tak perempuan tak lelaki, merah bibir dan giginya mengunyah sirih pinang. Perasaanku seperti melintasi lorong waktu. Terus Melaju ke depan namun pemandangan masa lampau yang terlihat.

Tak sadar tiba juga aku di simpang jalan masuk Desa kenduwela, berbelok masuk jalan pemadatan berbatu. Kulitku masih terus dijilati panas matahari pagi. Aku membiarkannya, supaya terbiasa.

Berhenti sebentar, melihat jam di telepon genggamku. Pukul 09.00 WIT.

Semenjak dari simpang tadi, kuda besiku meraung-raung kesakitan. Kesakitan dipaksa melintasi tanah berbatu. Kulihat beberapa ekor kuda di padang tersenyum lebar mengejek. “Rasakan kerasnya kehidupan di tanah kami, kuda besi…”.
Setengah jam berlalu di atas jalan pemadatan. Hanya padang ilalang menguning yang terlihat sejauh mata memandang. Pohon hanya satu-satu.

Mulai ragu, apakah benar ini jalan menuju SD yang dimaksud. Jalan berbatu berubah perlahan, menyempit tinggal jalan setapak. kuda besiku mulai risau akan jalan yang dilintasinya.

“Nah itu dia ada gubuk. Pasti sudah dekat”

Menghibur diri sendiri

Dari kejauhan seperti jamur bentuknya. Dengan yakin, kutarik kencang-kencang kuping kuda besiku. Mendekat sampai akhirnya jalan setapak habis.

Kira-kira 50 meter dari tempat aku berhenti. Gubuk tadi terlihat jelas. Atapnya dibungkus ilalang kering. Ukurannya tidak lebih besar dari Halte Transjakarta. Anyaman bambu menutupi setengah dinding-dindingnya. Aku tidak dapat melihat Isi di dalamnya dari jarak aku berdiri sekarang, tidak kelihatan karena silau cahaya matahari.

Segerombolan anak-anak dengan pakain seragam SD dan pramuka melintasiku, kearah gubuk

“Selamat pagiiiii…," ketika berada tepat di depanku. Serempak menyapaku, merapatkan kaki dan tangan ke badan mungil mereka. formal sekali.

“Selamat pagi…”

Langsung kujual senyum teramahku, sebelum disangka tukang culik.

Mereka malah tertawa cekikikan, menyembunyikan wajah mereka, sesekali diantara mereka curi-curi pandang ke arahku. Ada yang curiga, juga ada yang malu-malu.

Serba-serbi wajahnya, sama serba-serbinya dengan pakaian seragam dibadan mereka. Tidak bersepatu, tidak membawa tas sekolah, malahan membawa jerigen air. Anak-anak yang agak besar membawa 2 sampai 3 jerigen. Sedangkan anak-anak yang lebih kecil membawa 1 – 2 jerigen air.

“Pasti membolos”

Tuduhku dalam hati.

Lagian tidak ada bangunan SD di sekitar sini. Cuma gubuk tidak simetris di depan sana.

Kepalaku menoleh-noleh seperti induk ayam kehilangan anak-anaknya. Mencari orang yang bisa aku Tanya dimana keberadaan SD Paralel Kenduwela.

“Pak Frid..!, Pak Frid…!, di sini…”

Dari pintu gubuk muncul sosok lelaki jangkung.

Melambaikan tangannya yang kurus. Membentuk huruf O, Seperti wayang kulit,. Aku langsung mengenalinya. Aku mendekat.
Ada pohon jambu mete di depan gubuk itu. Lingkar besi roda mobil karatan tergantung di dahannya. Aku mulai sadar kalau ternyata aku sudah tiba di halaman sekolah. Bangunan gubuk itu adalah bangunan SD yang kucari. Loncengnya adalah Lingkar besi roda mobil karatan yang tergantung di pohon.

Semakin dekat, kepala murid-murid sekolah bermunculan dari balik anyaman dinding bambu itu, menoleh ke arahku. Tatapan mereka malu-malu, Tersenyum menunjukkan gigi jarang-jarang mereka. Tidak ketakutan seperti anak kecil ingusan kemaren. Seolah-olah kehadiranku sedang ditunggu-tunggu oleh mereka. Aku salah tingkah dibuat mereka.

“Selamat pagi, bapa”

“Selamat pagi pak Frid"

Sekarang dia merubah sebutannya untukku. Gelar anak mudaku hilang, namaku pun salah ucap.

“Maaf bapa, telat sedikit, saya kira saya nyasar"

Sudah pukul 09.45 WIT.

“Tidak apa-apa”

“Saya kira tadi hanya rumah penduduk bapa”

“Ini sekolah SD Paralelnya, pak Frid. Cuma ini SD yang ada di Desa kami. Muridnya banyak sekali. Anak-anak ini datang dari beberapa kampung di sekitar. Jumlah total muridnya ada 125 orang. Cuma dari kelas 1 sampai kelas 3 saja”

“Mereka belajar dalam ruangan yang sama bapa?”

“Iya benar, Cuma 1 ruangan ini saja pak Frid. Sementara anak-anak disini terus bertambah untuk belajar disini. Sudah tidak muat lagi. Tidak mungkin saya menolak mereka datang kemari untuk belajar bersama”

“Lantas, bagaimana kalau sudah tidak muat bapa?”

“Kami lagi mengupayakan menambah bangunan baru yang lebih besar, supaya tidak bercampur kelas 1, 2 dan 3”

“Bantuan pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat, bapa?"

“Swadaya warga sendiri. Kami mengumpulkan kayu-kayu yang dimiliki. Gotong royong membangunnya. Mudah-mudahan tahun ajaran baru nanti sudah jadi”.

“Oh begitu”

Angguk-angguk mulai mengerti situasinya.

“Begini memang kondisi di tanah Kodi ini. anak-anak ingin sekali bersekolah seperti anak-anak ditempat lain. tapi jumlah sekolahnya kurang. Sekolah negeri resmi cuma ada di kecamatan, jaraknya terlalu jauh. Masih ada ratusan anak-anak tidak bersekolah karena alasan jauh dan tidak ada biaya. Makanya saya berinisiatif bersama warga mendirikan SD paralel disini”.
Sambil duduk dirumput, kami melanjutkan obrolan kami.

“Persoalan utama bukan jarak saja pak Frid. tapi masalah air bersih. Sulit sekali memperoleh air bersih disini. Waktu anak-anak hanya habis untuk mengambil air. Pagi-pagi subuh mereka sudah keluar rumah, berjalan kaki 1 – 2 jam kesumber-sumber air. Kebanyakan di dalam gua-gua yang mau bapak survey nanti. Belum lagi perjalanan pulang. Kalau di hitung bisa 2 – 4 jam mereka menghabiskan waktu hanya untuk sekali mengambil air. Tergantung jarak rumah terhadap gua-gua di sekitar sini. Padahal dalam sehari mereka bisa 2 sampai 3 kali mengambil air”.

“Sehabis sekolah biasanya mereka langsung mengambil air sebelum pulang kerumah masing-masing. Jerigen air tidak pernah lepas dari tangan mereka, dibawa kemana-mana. Begitu ada kesempatan, mereka pergi mengambil air tanpa disuruh orang tua mereka”. Ia berbicara sambil menunjuk kearah tumpukan jerigen air di samping gubuk sekolah.

Mataku terpancing melirik kearah telunjuknya. Jerigen parkir berjajar dengan rapi, semuanya seragam, bewarna putih. Jerigen air bekas wadah minyak makan.

Bukan sepeda yang parkir di halaman sekolah ini, tapi jerigen bekas. Kontras sekali dengan sekolah pada umumnya.
Ia kembali berbicara. Aku masih menunggu lanjutan cerita dengan tenang.

“Jerigen air itu pengganti tas sekolah dan mainan mereka. Mereka tidak butuh tas sekolah karena tidak berfungsi bagi mereka. Tidak ada buku-buku pelajaran sekolah yang harus dibawa. Mereka Cuma membawa satu buku dan satu pensil saja. Buku tulis hanya ada di Waitabula. Namun Keuangan orang tua mereka payah. Jadi pakai seadanya dulu. Seirit mungkin, satu buku untuk satu semester. Kalau buku pelajaran, setengah mati kita mencarinya, pak Frid” sambil meringis.

“Buku pelajaran kadang-kadang juga ada yang menjual di Waitabula. Tapi tidak semuanya mampu membeli. Lebih baik uang orang tua mereka disimpan untuk membeli air saat kemarau. Saat kemarau sumber-sumber air dalam gua menyusut. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan jiwa di desa ini. Mulut gua akan bisa jadi tumpukan manusia mengantri air”.
“Jadi sumber air dalam gua tidak semuanya permanen bapa?”

Pertanyaan ini berkaitan dengan pekerjaanku. Sangat menentukan apabila akan dikembangkan untuk sarana air bersih.

“Iya, sumber air digua tidak mengalir sepanjang tahun, hanya rembesan kemudian menjadi genangan, genangan inilah yang dimanfaatkan. Kalau kemarau airnya menyusut. Perlahan kering, butuh beberapa hari, kadang mingguan sampai air merembes keluar lagi dari celah dinding gua” ia menjawab layaknya seorang ahli geologi dan benar-benar paham kondisi alam mereka.

“Anak-anak sering terlambat ke sekolah, bapa?”

“Iya”

“Tidak ada hukuman atas keterlambatan mereka? Untuk mengajarkan disiplin?”

Pertanyaan yang kusadari sebenarnya konyol untuk situasi seperti ini. tapi aku bingung mau Tanya apa lagi.
“ha ha ha, Pak Frid, disiplin anak-anak disini tidak perlu ditegakkan dengan aturan semacam itu, alam sudah membentuk karakter mereka dengan sendirinya” sambil tersenyum lembut.

“Kemauan Mereka datang sudah menunjukkan disiplin yang luar biasa. Disiplin yang datang dari kesadaran kritis seorang bocah, terbentuk oleh alam tandus ini. Hal ini harus mendapat penghargaan, bukan hukuman dari seorang pendidik seperti saya”.

Anak-anak dalam ruangan masih asik memandangi kami yang mengobrol. Kulihat pakaian mereka kotor sekali. Bahkan seperti tak pernah dicuci selama 1 minggu paling kurang. Beberapa anak mengelap ingusnya yang terus mengalir dengan lengan bajunya. Hatiku pilu memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan dengan kondisis seperti itu.

“Pak Frid kasihan ya melihat mereka kotor sekali?” sambil tertawa geli, tiba-tiba menyahut pikiranku. Seolah-oleh dia berbicara dengan pikiranku. Ini untuk kedua kalinya dia membaca pikiranku.

“Wajar saja pakaian mereka kotor, air disini terbatas. Daripada harus mandi dan mencuci pakaian, lebih baik untuk minum dan memasak di rumah mereka. Leleran ingus akan hilang sendirinya, mereka menjadi kebal sendiri. Kita tidak perlu mengasihani mereka. Mereka bukan korban yang tak berdaya. Mereka anak-anak hebat dan kuat, tidak suka dikasihani, anak-anak yang senang berbagi kecerian daripada kesedihan, lebih baik kita berbagi dengan mereka.”

“Bukankah kita dapat belajar banyak hal dari memahami manusia yang memiliki tata cara berbeda dalam ragam kehidupan manusia?” Ia berbicara seperti menceramahi anak-anak.

Aku seperti mahasiswa bodoh yang di beri pencerahan oleh seorang guru SD. Guru SD kampung dengan perkataanya sederhana, penuh makna dan realitas.

“Iya, benar bapa”

Manggut-manggut menyerap setiap kata-katanya.

“Bapa dulu pernah belajar dimana ?”

Penasaran karena sungguh luar biasa pemikiran lelaki jangkung ini. dari tutur kata, sikap dan pemikirannya mencerminkan seorang yang terdidik dengan baik. Individu langka yang muncul ditempat keras ini, namun hatinya lembut dan penuh kasih.

“Saya dulu pernah belajar di Salatiga, Jurusan Ilmu Pendidikan, setara Diploma 3”

“Kenapa bapa malah mengajar di sini, tidak di kota ?” aku ingin tahu lebih mendalam motivasi lelaki jangkung ini.
Saya merasa beruntung dapat belajar di Jawa. Tapi Kebetulan saya asli orang sini. Maka saya memutuskan untuk kembali dan membangun kampung halaman sendiri. Kalau bukan kita yang pernah mendapat kesempatan terdidik, sapa lagi yang mengambil peran seperti ini.

“Saya hanya manusia biasa yang mencoba berbagi dengan manusia lain. Sebagai seorang terdidik kita harus dapat memanusiakan manusia” suaranya rendah, serendah hatinya.

Aku melirik telepon genggamku, Pukul 10.00 WIT. Melihatku melirik jam. Ia sadar dan bergegas berdiri dari rumput. Siap-siap untuk berangkat ke lokasi sumber air yang akan kami survey.

“Tunggu sebentar, biar saya pamitan dulu dengan anak-anak. Kebetulan saya dibantu guru pengganti, bapak Urbano. Tadi pagi saya meminta beliau menggantikan saya karena saya akan menemani pak Frid untuk mensurvey sumber air”.

“Bapa, saya bisa menunggu kalau ternyata bapa masih ada kelas”.

Perasaanku tidak nyaman, merasa egois harus mengorbankan kesenangan anak-anak belajar bersamanya.

“Tidak apa-apa. Itu bukan untuk kepentingan pak Frid. Ini untuk kepentingan semua warga disini. Kegiatan survey air hari ini sama pentingnya dengan pendidikan disini ”.

“Baiklah kalau begitu, bapa”

Masih tidak nyaman.

Dalam bahasa daerah bapa guru Imanuel meminta ijin, menjelaskan situasinya bahwa beliau lagi ada proyek survey sumber air bersama denganku. Murid-murid itu setuju dan paham. Telihat dari ekspresi mereka yang tidak dibuat-buat. Bahkan terlalu kanak-kanak untuk memahami hal ini. Reaksi yang muncul tidak sama seperti di ruangan kelas kuliahku dulu saat dosenku berpamitan meminta ijin karena ada proyek. Tidak ada yel-yel kebebasan yang menggelegar di dalam gubuk sekolah ini. mereka tidak merasa seperti terpenjara. Mereka benar-benar memahami kebutuhan mereka untuk belajar. Aku jadi malu mengingat kelakuanku dulu.

Setelah pamit. Kami mulai berjalan kelokasi sumber-sumber air. Satu persatu lokasi gua yang memiliki sumber air kami kunjungi. Aku merekam titik lokasi gua dengan GPS, mengukur debit air, Suhu, Ph, kadar garam dan semua data untuk bahan analisa. Semuanya tercatat di buku lapanganku. Semua lokasi telah kami datangi, tidak ada satupun yang terlewatkan. Kami berjalan kembali ke gubuk sekolah.

Sambil duduk-duduk istirahat.

“Jadi.... Bagaimana kira-kira hasilnya nanti, pak Frid ?"

Diam sebentar memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab.

“Sepertinya sulit, bapa. Debit airnya kecil-kecil. Kadar garamnya pun tinggi karena bercampur air laut yang masuk melalui rongga batuan dari bawah” Aku memberanikan diri mengatakan kondisi sebenarnya.

“Nanti tetap akan saya laporkan ke pemerintah hasil survey hari ini. Akan saya buatkan rekomendasi , solusi apa sekiranya yang bisa membantu” aku berusaha memberikan gambaran kalau hasil survey hari ini tidak selesai di atas buku lapanganku saja.

“Lantas, apa masih ada solusi ?”

“Solusi tetap ada. Setidaknya bisa mengatasi sedikit masalah air bersih disini, bapa“

“Bagaimana?”

“Selain tetap memanfaatkan air dari gua. Warga bisa membuat bak penampungan air hujan saat musim hujan. Buat yang besar sekalian ditiap-tiap rumah. Jadi saat musim kemarau datang masih ada cadangan air. Setidaknya bisa membantu sedikit pak“

“Benar juga“ katanya datar.


“Iya bapa, hal ini bisa diusulkan kepemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada disini” aku bersemangat memberikan dorongan.

“iya, ya..ya…, nanti akan saya rapatkan segera dengan warga dan mengusulkannya ke program pemerintah“

“Terimakasih pak Frid atas usulnya“

Tersenyum, kemudian menghisap dalam rokok di tanganya. Menikmati sekali.

“Itu bukan ide saya bapa. sebenarnya itu sudah dilakukan nenek moyang kita”

“Benar pak Frid. Cuma saja manusia sering lupa dan meninggalkan cara-cara sederhana. Manusia suka terjebak teknologi canggih-canggih yang mahal. Saya sangat senang diingatkan kembali akan hal ini“

Aku melihat kembali telepon genggamku. Sudah pukul 16.30 WIT. Rokok kumatikan. Bersiap untuk pulang ke Waitabula.
“Terimakasih bapa sudah menemani hari ini. Saya harus kembali, sudah sore“

“Sama-sama, sampai bertemu lagi pak Frid“. Kamipun bersalaman

Aku melangkah kearah kuda besiku berdiri. Instingku memberitahu kalau masih ada yang kurang. Tas Jinjing Kuning Bapa Guru Imanuel melintas dalam kepalaku.

“Oh iya bapa, boleh saya tahu isi tas jinjing kuning bapa ?”

“Boleh, boleh, ini…” Diapun mengeluarkan isinya, menyodorkannya kepadaku.

Isinya adalah buku folio usang. Usang dimakan usia dan keringat tangan si pemilik yang sering membolak-balik lembar-lembarnya. Isinya ratusan nama dengan tulisan tangan halus kasar.

“Itu nama murid-murid saya. Manusia-manusia yang kelak akan memanusiakan manusia dimanapun mereka berada” manusia-manusia harapan saya sebagai seorang pendidik.

“Terimakasih bapa” aku menyerahkan kembali buku tersebut. Mulai menghidupkan kuda besiku. Kutarik lagi kupingnya.

Brum….!

Melaju kedepan meninggalkan mereka di belakang. Aku membalikkan lagi badanku. Kulihat lambaian tangan bapa guru Imanuel. Segerombolan anak-anak berteriak-teriak sambil mengejarku, mengikuti kuda besiku yang terus melaju

“Sampai ketemu lagi kakak...!”

“Sampai bertemu lagi…!”

Anak-anak berteriak-teriak sambil berlari dan tertawa-tawa. Berlari dengan satu tangan menenteng jerigen air dan tangan satunya melambai-lambai kearahku. Terus mengejarku yang terus menjauh. Sampai perlahan satu persatu berhenti kelelahan. Tetap berdiri menatapku sampai aku tak terlihat lagi.

***

Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman sudah dimatikan. Akupun melepaskan sabuk pengamanku. Pesawat yang aku tumpangi telah lepas landas menuju Jakarta. Dari jendela aku pandangi hamparan kuning pulau Sumba. Teringat lambain tangan pak guru, anak-anak yang mengejar-ngejarku dan teringat tas jinjing kuning bapa guru Imanuel.

Kulihat lagi buku catatan lapanganku. Berharap hasil survey ini tidak hanya menjadi tumpukan kertas laporan saja. Berharap akan adanya perubahan di tanah Kodi. Apakah nama-nama itu kelak dapat melanjutkan harapan pak gurunya? Cemas hati ini memikirkannya.

“Hidup bukan perkara mengambil sesuatu, hidup adalah berbagi dalam prosesnya. Disitu kau akan menjadi manusia dan mencintai manusia ”.

Empat jam kemudian pesawatpun tiba di bandara Soekarno Hatta.

“Cuih…”

Membuang ludah merah setelah mengunyah sirih pinang. Wanita cantik yang sexi disebelah menatapku jijik,

“Huh…,kampungan !” tatapan matanya berbicara padaku.

Aku hanya nyengir menunjukkan gigi dan mulutku yang kemerahan.

 

* Sebuah cerita pengalaman dari alumni Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta yang sekarang sibuk sebagai Disaster Risk Reduction Specialist pada Disaster Management Innovation (DMI), sebuah program kerjasama antara Geoscience Australia dengan Indonesia dalam urusan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk Manajemen Bencana. Fredy Chandra. (WA)

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.