(Update) Goyangan Raksasa di Laut, Geliat Kecil di Darat sintesis Gempa 6 Februari 2026

2026-02-05 20:50:42 Berita Geologi

 Goyangan Raksasa di Laut, Geliat Kecil di Darat

Oleh Hasan Rosyadi

PAGI buta itu menghentak.

Jam dinding baru saja melewati angka 01:06 WIB. Jumat, 6 Februari 2026. Sebagian besar dari kita masih terlelap. Mungkin sedang bermimpi indah. Atau baru saja menarik selimut karena hawa dingin musim hujan.

Tiba-tiba: Gerrrr.

Ayunan itu terasa panjang. Mengayun. Bukan menghentak keras seperti truk menabrak tembok, tapi seperti diayun di atas perahu. Lama.

Itulah gempa Pacitan. Magnitudonya 6,5. Besar.

Pusatnya ada di laut. Jauh. Sekitar 89 kilometer di tenggara Pacitan. Kedalamannya dangkal, cuma 10 kilometer.

Ahli gempa menyebut ini: salah satu segment Megathrust.

Ya, istilah yang selama ini menghantui tidur kita itu benar-benar menampakkan wajahnya. Bukan wajah penuhnya, tapi sekadar "kedipan" matanya.

Ini terjadi di segmen Jawa Timur. Segmen yang selama ini diam. Tenang. Para ahli menyebutnya Seismic Gap. Celah sepi gempa.

Tapi sepi bukan berarti kosong. Sepi di sana berarti sedang "menabung". Menabung energi. Lempeng Indo-Australia yang tua umurnya lebih dari 100 juta tahun sedang mendesak masuk ke bawah Jawa.

Lempeng itu tua, dingin, dan kaku. Ia tidak mau mengalah. Ia mengunci lempeng di atasnya. Mengunci kuat sekali.

Pagi itu, kunciannya lepas sedikit. Bles. Energi keluar. Jadilah gempa 6,5 itu.

TAPI cerita belum selesai.

Belum kering keringat dingin warga Pacitan dan sekitar hingga ke Yogyakarta, belum reda kepanikan di media sosial, muncul kabar lain.

Ada gempa lagi. Kecil. Cuma magnitudo 2,1.

Lokasinya beda. Bukan di laut. Tapi di darat. Di barat laut Gunungkidul. Kedalamannya 18 kilometer.

Orang awam mungkin bertanya: Kok bisa? Habis yang besar di laut, muncul yang kecil di darat? Apa hubungannya?

Di sinilah letak seni dari ilmu bumi.

Bayangkan Anda punya dua balok kayu yang saling himpit. Balok pertama (laut) Anda dorong kuat-kuat. Tiba-tiba balok itu bergeser. Plak!

Apa yang terjadi pada balok di sebelahnya (darat)? Ia ikut bergetar. Ikatan yang tadinya kuat menahan balok darat itu jadi longgar.

Ilmuwan menyebutnya: Coulomb Stress Transfer. Transfer tegangan.

Gempa besar di Pacitan tadi ibarat "bos" yang membagikan beban kerja. Beban tegangannya dilepas di laut, tapi sebagian "dilempar" ke darat.

Sesar-sesar di darat seperti Sesar Opak atau Sesar Oyo yang membelah Yogyakarta dan Gunungkidul itu sifatnya sensitif. Mereka sudah jenuh. Sudah tegang.

Begitu dapat "kiriman" tegangan sedikit saja dari Pacitan, atau sekadar digoyang oleh gelombang gempa laut tadi, mereka langsung bereaksi.

Kuncian di darat ikut lepas. Terjadilah gempa susulan. Memicu struktur sesar kerak dangkal.

Ini peringatan penting.

Kita sering terlalu fokus melihat ke laut. Takut tsunami. Itu benar. Itu wajib. Gempa 6,5 di zona Megathrust memang punya potensi itu meski pagi itu Allah SWT masih melindungi kita.

Tapi jangan lupa melihat ke bawah kaki kita sendiri.

Gempa Gunungkidul itu kecil. Cuma 2,1. Tapi ia dangkal. Ia ada di darat. Di dekat rumah warga.

Gempa darat itu "jahat".

Guncangannya tidak mengayun, tapi menyentak. Frekuensinya tinggi. Rumah-rumah tembok yang tidak bertulang besi kuat, bisa retak. Bahkan roboh.

Ingat Cianjur 2022? Gempa darat dangkal. Magnitudo "hanya" 5,6. Tapi dampaknya luar biasa memilukan.

Pagi itu, alam memberi kuliah gratis kepada kita.

Bahwa Jawa tidak hanya terancam dari depan (laut/Megathrust), tapi juga dari dalam (sesar darat).

Gempa Pacitan adalah alarm. Gempa Gunungkidul adalah pengingat.

Bahwa lempeng bumi di bawah kita sedang mencari keseimbangan baru.

Maka, konstruksi rumah adalah kunci. Kewaspadaan adalah ibadah.

Jangan hanya lari menjauh dari pantai saat gempa besar terjadi. Cek juga tembok rumah Anda setelahnya. Apakah ada retakan? Apakah strukturnya masih aman?

Karena gempa susulan tidak selalu datang dari tempat yang sama. Ia bisa muncul di mana saja. Termasuk di halaman belakang rumah kita.

Semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya. Sambil terus belajar membaca isyarat bumi. 

 

Hasan Rosyadi

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.