(Update Spesial Jogja) Misteri Opak

2026-02-06 20:55:30 Kebumian

Masih ingat 27 Mei 2006?

Pagi buta. Saya tidak akan lupa tanggal itu. Anda juga pasti ingat. Ditengah orang bersiap siap, ada juga yang tertidur lelap, Jogja berguncang hebat. Ribuan nyawa melayang. Ratusan ribu rumah rata dengan tanah.

Biang keroknya satu: Sesar Opak.

Dulu, ahli geologi sempat "meremehkan" sesar ini. Dianggap sesar tua. Sesar mati. Kalah pamor sama Sesar Lembang atau Cimandiri.

Ternyata? Dia bangun. Marah. Mengguncang dengan kekuatan 6.3 skala magnitudo.

Yang bikin kaget bukan cuma gempanya. Tapi kerusakannya. Kenapa parah sekali? Karena tanah Jogja itu istimewa. Jogja berada diatas Cekungan. Isinya endapan Merapi muda. Sedimen  bisa dibilang lunak Kalau digoyang, efeknya seperti jeli di dalam mangkuk. Bergoyang lebih lama, lebih kuat.

Beda dengan yang di timur sungai Opak. Di sana ada Pegunungan Sewu. Baturagung. Tanahnya keras. Kapur. Batuan purba. Kena gempa, dia diam saja. Kokoh.

Sesar Opak ini makhluk yang unik. Dia punya "kepribadian ganda".

Jutaan tahun lalu zaman Tersier, dia lahir sebagai sesar normal. Bayangkan tanah yang ditarik ke kanan dan kiri, lalu tengahnya ambles. Itulah yang membentuk Cekungan Jogja. Cekungan di barat turun, pegunungan di timur naik. Jadilah graben.

Tapi zaman berubah. Lempeng tektonik di selatan Jawa. Lempeng ndo-Australia ini terus menekan. Maju terus. Kecepatan tabrakannya 7 sentimeter per tahun. Itu ngebut untuk ukuran geologi.

Tekanan itu mengubah sifat Sesar Opak.

Di zaman Kuarter zaman kita sekarang, dia tidak lagi cuma turun-naik. Dia mulai bergeser. Geser ke kiri. Istilah kerennya: Sinistral Strike-Slip.

Itulah yang terjadi 2006 lalu. Sesar tua itu "hidup" lagi dengan gaya baru. Dia tidak sendirian. Ternyata Sesar Opak itu bukan satu garis lurus seperti goresan pensil di peta. Dia itu zona. Lebar. Ruwet. Bahkan ada dugaan sesar yang pecah 2006 itu bukan yang pas di sungai Opak, tapi agak ke timur sedikit. Sesar "buta" yang sembunyi di bawah tanah.

Lalu, ada satu misteri besar.

Sesar ini panjang, sekitar 45 kilometer. Dari laut selatan Parangtritis lari kencang ke utara. Melewati Bantul sampai Prambanan.

Tapi, kenapa jejaknya hilang saat mendekati Merapi? Kenapa dia tidak membelah Merapi?

Secara teori, sesar sebesar itu harusnya terus "menyobek" tanah sampai utara.

Penelitian terbaru yang laporannya tebal-tebal itu menemukan jawabannya. Ada dua alasan.

Pertama, tertimbun. Merapi itu rajin sekali "batuk". Muntahan pasir, lahar, dan abunya luar biasa banyak. Sesar Opak sebenarnya mungkin ada di sana. Tapi terkubur dalam sekali. Tertutup "selimut" tebal hasil erupsi ribuan tahun. Jadi di permukaan tidak kelihatan.

Kedua, ini yang lebih canggih: Stress Barrier.

Di bawah Merapi itu panas. Ada dapur magma. Batuan di sana tidak keras dan getas seperti di Gunung Kidul. Tapi lunak. Duktil. Seperti dodol yang dipanaskan.

Kalau batuan keras ditekan, dia patah. Jadilah gempa. Tapi kalau "dodol panas" ditekan? Dia cuma melar. Dia menyerap energi itu.

Jadi, dapur magma Merapi itu seperti bumper. Dia menjadi penghalang tegangan. Retakan dari selatan "mentok" saat ketemu zona panas di bawah Merapi. Energinya diredam.

Sesar Opak dipaksa berhenti atau dibelokkan.

Apa artinya buat kita?

Sesar Opak masih ada dia masih aktif. Riset bilang pergeserannya sekitar 2,4 sampai 5 milimeter per tahun.

Kecil? Memang. Tapi kalau dikumpulkan 100 tahun? Jadi setengah meter. Itu energi yang besar sekali kalau dilepas sekaligus.

Siklusnya mungkin lama ratusan tahun. Gempa besar sebelum 2006 terjadi tahun 1867.

Kita tidak bisa melawan bumi, Kita menumpang hidup di atas lempeng yang terus bergerak. Kita tidak bisa menyuruh Sesar Opak berhenti.

Yang bisa kita lakukan cuma satu: bersahabat dengannya.

Caranya? Jangan bangun rumah asal-asalan. Terutama di sisi barat sungai Opak. Di atas tanah lunak itu. Pondasinya harus benar. Strukturnya harus tahan goyang gunakan acuan SNI. 

Agar kalau Sesar Opak "menggeliat" lagi di masa depan, anak cucu kita cuma kaget bukan berduka.

 

Saya akan menjelaskan istilah-istilah yang digunakan supaya lebih menyala. 

 

 

1. Arti "Struktur Dalam Tersegmentasi"

Maksudnya:

Sesar atau patahan itu tidak berupa satu garis lurus yang mulus dan panjang dari ujung ke ujung. Sebaliknya, ia terputus-putus, bergeser sedikit, atau berbelok. Potongan-potongan inilah yang disebut "segmen".

Analogi:

Bayangkan sebuah ritsleting. Jika ritsleting itu utuh, sekali ditarik ia terbuka semua. Tapi jika ritsleting itu rusak dan ompong di beberapa bagian, tarikannya akan macet-macet.

 * Sesar yang utuh sepanjang 45 km, jika pecah sekaligus, gempanya besar sekali.

 * Sesar yang "tersegmentasi" (misal: terbagi 3 bagian masing-masing 15 km), biasanya gempanya tertahan di batas segmen itu.

Kenapa Penting?

Dalam kasus Sesar Opak, data gravitasi menunjukkan adanya jog (belokan/putusan) di bawah permukaan.

Ini kabar "sedikit" baik, karena segmentasi biasanya membatasi besarnya gempa (magnitudo) agar tidak "meledak" sepanjang seluruh jalur sesar sekaligus.

2. Maksud "Kontras Vp/Vs"

Ini adalah cara ahli geofisika melakukan "rontgen" ke dalam perut bumi untuk mengetahui kondisi batuan.

 * Vp (Velocity Primary/P-wave): Gelombang cepat. Dia bisa merambat lewat benda padat DAN cair.

 * Vs (Velocity Secondary/S-wave): Gelombang lambat. Dia hanya bisa lewat benda padat. Jika kena cairan atau batuan hancur, dia melambat drastis atau hilang.

Rasio Vp/Vs (Perbandingan P dan S):

 * Rasio Rendah/Normal: Menandakan batuan yang padat, kering, dan kompak.

 * Rasio Tinggi (High Vp/Vs): Menandakan batuan yang hancur, retak-retak, atau jenuh air/fluida.

Logikanya:

Di zona patahan (Sesar Opak), batuannya sudah hancur karena sering bergesekan. Celah-celah hancuran itu terisi air tanah.

Akibatnya: Gelombang P (Vp) lewat dengan santai, tapi Gelombang S (Vs) tersendat-sendat (lambat sekali).

Karena Vp tetap tapi Vs mengecil, hasil pembagiannya (Vp dibagi Vs) jadi Angka Besar (Tinggi).

Kesimpulan: Jika peta tomografi (lihat diinfogrfis Opak)  menunjukkan "Vp/Vs tinggi" memanjang di bawah tanah, itu adalah bukti kuat bahwa di sana ada jalur patahan yang "basah" dan rapuh.

3. HVSR, Sedimen Tebal, Vs30 Rendah, dan Amplifikasi

Ini adalah inti kenapa Bantul hancur lebur pada 2006 meski pusat gempanya agak jauh.

Istilahnya:

 * Sedimen Tebal: Tumpukan tanah yang lunak, pasir, dan abu vulkanik Merapi yang menimbun batuan keras di bawahnya. Di Bantul, tebalnya bisa ratusan meter.

 * Vs30 Rendah: Kecepatan gelombang geser di kedalaman 30 meter teratas.

   * Vs30 Tinggi = Tanah Keras/Batu (Gelombang lari kencang).

   * Vs30 Rendah = Tanah Empuk/Lembek (Gelombang lari pelan).

Bagaimana Amplifikasi Terjadi? (Mekanisme "Rem Mendadak")

 * Ngebut di Batu Keras: Gelombang gempa merambat dari pusatnya di dalam bumi melewati batuan keras dengan kecepatan tinggi tapi guncangannya (amplitudo) kecil/pendek.

 * Masuk Lumpur (Vs30 Rendah): Tiba-tiba gelombang ini masuk ke Cekungan Yogyakarta yang isinya tanah lunak.

 * Tumpukan Energi: Karena tanahnya lembek, gelombang "dipaksa" melambat drastis. Sesuai hukum fisika (kekekalan energi), energi yang tidak bisa lari cepat itu berubah bentuk menjadi ayunan yang lebih tinggi dan lebar.

Analogi Paling Mudah: Mangkuk Jeli, tulisan sebelumnya Mangkok bubur dan kayu, kali ini Jeli. 

 * Bayangkan piring kaca (batuan keras Pegunungan Seribu) dan mangkuk berisi jeli (tanah lunak Bantul/Jogja) ditaruh di atas meja.

 * Lalu mejanya digebrak (gempa).

 * Piring kaca hanya bergetar "ting" sebentar lalu diam.

 * Tapi jeli di dalam mangkuk akan bergoyang-goyang (membal) hebat, lama, dan liar.

mudahnya, 

HVSR mengukur seberapa "membal" tanah tersebut. Sedimen tebal dengan Vs30 rendah membuat tanah di permukaan bergoyang jauh lebih keras dan lebih lama dibandingkan tanah di pegunungan, merobohkan bangunan yang tidak didesain tahan gempa.

Oleh Hasan Rosyadi, MSc. Jika ada diskusi lanjut saya dengan senang hati bisa ngopi ngopi bareng tanpa asap. 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.