Oleh: Hasan Rosyadi
NGERI. Benar-benar ngeri.
Lubang itu kian menganga. Di Desa Pondok Balik, Aceh Tengah. Awalnya dikira sinkhole. Seperti yang sering terjadi di luar negeri itu. Tiba-tiba tanah amblas. Membentuk sumur raksasa.
Ternyata bukan.
Ukurannya bikin geleng kepala. Tiga hektar! Bayangkan. Tiga kali lapangan bola lebih. Itu data terbaru awal 2026 ini. Padahal tahun 2021 masih dua hektar. Cepat sekali meluasnya.

Dalamnya? Ada yang sampai 100 meter. Gedung bertingkat pun bisa masuk.
Yang bikin jantungan adalah kecepatannya. Pertengahan Januari lalu, jarak bibir lubang masih 3 meter dari aspal. Aman, pikir warga. Dua minggu kemudian? Amblas. Jalan raya Takengon-Bireuen putus. Dimakan lubang.
Lalu, makhluk apa ini sebenarnya?
Sebagai lulusan master Geologi, praktisi sekaligus Ahli bumi ini, Hasan Rosyadi, punya istilah menarik. Ini bukan sinkhole. Ini "Mahkota Longsor". Atau bahasa kerennya: Landslide Crown.
Bedanya jelas. Kalau sinkhole itu runtuh vertikal dan tegak lurus,bahasa jawanya Mak Byok. Kalau ini, tanahnya melorot, merosot bertahap seperti prosotan. Menggerogoti ke arah belakang. Ke arah jalan raya mundur terus.
Kenapa bisa begitu?
Rupanya tanah di sana "tanah tua yang lepas". Warisan Gunung Api Purba Gredong. Jutaan tahun lalu meletus. Memuntahkan material piroklastik.
Bentuknya seperti pasir, lepas-lepas. Tidak lengket. Kohesinya lemah sekali.
Pas kering, dia diam. Pas kena hujan? Celaka. Tanah jenis ini rakus air. Menyerap cepat. Langsung jenuh. Jadi bubur. Berat. Lalu runtuh.
Sudah tanahnya gembur, digoyang pula.
Akhir 2025 lalu ada siklon Senyar. Lalu ada gempa Gayo. Belum lagi truk-truk besar lewat di jalan raya itu. Getarannya merambat. Klop sudah. Tanahnya rapuh, basah, dikocok pula, Ambrol.
Korbannya bukan cuma jalan. PLN yang paling pusing.
Menara SUTET mereka nyaris ikut terjun bebas. Itu kabel tegangan ekstra tinggi. Bahaya sekali.
Maka, PLN gerak cepat. Listrik dimatikan sementara. Kabel dipindah. Menara darurat dibangun. Digeser 150 meter menjauh. Cari tanah yang lebih waras.
Petani cabai dan bawang di sana cuma bisa elus dada. Kebun siap panen hilang. Ditelan bumi.
Sekarang bagaimana?
Dinas ESDM Aceh sudah teriak: Jangan mendekat! Zona bahaya. Tanah pinggiran itu masih labil. Bisa runtuh sewaktu-waktu.
Ke depan, ahli geoteknik harus hitung-hitungan. Pakai kalkulator teknik. Apakah tebing itu bisa diperkuat? Dikasih beton? Atau drainasenya diatur?
Kalau terlalu mahal, ya sudah. Jalannya yang harus mengalah. Pindah permanen.
Dan satu lagi obat mujarabnya: Pohon.
Lereng itu butuh akar. Butuh paku alam. Untuk mengikat tanah yang maunya lepas terus itu.
Alam memang punya cara sendiri untuk mengingatkan kita. Kadang, caranya keras sekali. Seperti di Aceh Tengah ini.
Hasan Rosyadi