(Viral Update) Rekomendasi dan Kesimpulan Padasari Merayap

2026-02-08 00:22:28 Berita Geologi

Gerak Senyap Geolog Pejuang

Kabar itu datang pagi ini. Menyejukkan.

Seperti segelas teh hangat di tengah hujan deras Padasari. Datangnya langsung dari Semarang. Dari "Senior kita Alumni Geologi  UPN"-nya..

 

Isi pesannya pendek. Padat. Tapi menjawab semua keresahan kita berhari-hari ini.

Ternyata, pemerintah tidak diam. Mereka sudah satu langkah di depan. Bahkan dua langkah.

Saat kita masih sibuk berdebat soal teori di grup WhatsApp, mereka sudah bicara eksekusi. Dua lokasi lahan relokasi sudah disiapkan. Milik Perhutani.

Besok ya, besok pagi tim ahli mereka langsung turun ke lapangan. Melakukan asesmen.

Ini bukan lagi wacana. Ini operasi taktis.

Saya kagum dengan cara pandang Mas senior kita di Dinas terkait ini. Beliau tidak terjebak pada kacamata kuda.

Biasanya, orang geologi cuma peduli batu. Asal tanahnya keras, aman dari longsor, urusan selesai. Tapi beliau beda.

Beliau menegaskan: Pindah rumah itu gampang. Tapi memindahkan kehidupan itu susah.

Makanya, asesmen besok itu paket komplit. Bukan cuma dicek geologinya aman atau tidak. Tapi juga dicek napas kehidupannya: Ada air bersihnya tidak? Jalannya bisa masuk tidak? Sanitasinya bagaimana?

Ini namanya memanusiakan korban bencana. Bukan sekadar memindahkan barang. Percuma pindah ke tanah batu kalau warga mati kehausan karena tidak ada sumber air. Itu namanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan masalah.

Konsep ini cerdas. Sustainable Relocation. Relokasi yang berkelanjutan.

Ada satu lagi poin beliau yang menohok. Halus, tapi tajam setajam silet.

Beliau bilang: "Kerja senyap. Tidak harus bermedsos."

Di zaman ketika pejabat berlomba jadi selebgram, ketika kerja sedikit potretnya seribu kali, prinsip ini mahal harganya.

Senior senior kita Alumni Geologi UPN memilih jalan sunyi. Jalan data. Bukan jalan viral. Mereka tidak butuh likes. Mereka butuh solusi. Biarkan hasil yang bicara, bukan caption Instagram.

Ini teguran elegan bagi kita semua. Bahwa bencana itu harus ditangani dengan kepala dingin dan data akurat. Bukan dengan kehebohan yang tidak perlu.

Dan yang bikin dada saya sedikit membusung bangga: Solidaritasnya.

Di akhir pesannya, beliau membuka kartu. Ternyata, di balik gerak cepat dan senyap itu, ada "darah" yang sama mengalir.

Sebanyak 70 persen kekuatan personel geolog personel dinas itu adalah alumni UPN Veteran Yogyakarta. Kampus Bela Negara. Kampusnya para petarung lapangan. Semua bersatu.

 

Pantas saja frekuensinya sama. Pantas saja sat-set. Rupanya ada jiwa korsa yang kuat di sana. Jiwa "Widya Mwat Yasa". Membangun negara dengan ilmu.

Mereka bekerja dalam satu komando: Gotong Royong melebur jadi satu.

Maka, kesimpulan saya sederhana.

Untuk Padasari, harapan itu ada. Terang benderang.

Tugas kita sekarang apa? Minggir. Beri jalan.

Biarkan para ahli itu bekerja. Jangan recoki mereka dengan isu liar. Dukung mereka dengan doa. Percayakan pada ahlinya.

Maju terus, Geolog Pejuang. Kami di belakangmu.

 

Disusun oleh Hasan Rosyadi MSc

Artikel ini disusun dengan sintetis berbagai sumber dan dianalisis serta tanggapan ahli terkait. Terimakasih 

 

© 2015 - 2026 IAGEOUPN.OR.ID. All rights reserved.