Padasari yang Merayap
Oleh Hasan Rosyadi
Bayangkan tidur di atas punggung naga. Naga yang sedang menggeliat pelan. Sangat pelan. Tapi pasti.
Itulah yang dirasakan warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Tegal.
Rumah mereka tidak roboh seketika. Tidak ada suara dentuman besar seperti longsor di tempat lain. Yang ada hanya bunyi "krek... krek...". Bunyi tembok yang meregang di tengah malam. Bunyi ubin lantai yang tiba-tiba meledak kecil karena terangkat (heaving). Pintu yang pagi hari bisa dibuka, sore harinya macet total. Kusennya sudah miring.

Itu bukan hantu. Itu ulah tanah.
Awal tahun 2026 ini menjadi puncak tangis Padasari. Ratusan rumah rusak. Jalan kabupaten putus—lagi. Padahal baru saja diaspal. Pejabat tinggi negara sampai turun gunung.
Melawan alam itu memang berat. Apalagi kalau musuhnya tidak kelihatan.
Ahli geologi menyebut fenomena ini Soil Creep. Bahasa kita: tanah merayap. Rayapan tanah.
Bedanya dengan longsor biasa? Kalau longsor biasa itu seperti mobil ngebut rem blong. Cepat. Mematikan. Kalau creep ini seperti macet di Jakarta. Pelan, menyiksa, dan bikin frustrasi seumur hidup.
Kenapa tanah Padasari bisa begitu? (Lihat gambar)
Saya membaca laporan teknisnya. Tebal. Penuh istilah canggih. Ada Geodinamika. Ada Geoteknik.
Tapi intinya sederhana: Padasari itu salah tempat duduk.
Desa ini duduk di atas tumpukan "kue lapis" geologi yang licin.
Lapisan paling bawah namanya Formasi Rambatan. Umurnya tua, zaman Miosen. Isinya batulempung napalan. Sifatnya unik: kalau kering dia keras, kalau kena air dia berubah jadi bubur licin. Licinnya minta ampun. Seperti sabun.
Di atas lapisan licin itu, ada tanah vulkanik gembur. Bekas letusan Gunung Slamet purba. Di situlah warga membangun rumah. Di situlah jalan dibangun.
Masalahnya, lapisan "sabun" di bawah itu miring. Kemiringannya searah dengan lereng. Orang geologi menyebutnya Dip-Slope.
Lalu hujan turun. Februari kemarin hujannya gila-gilaan.
Air meresap ke tanah gembur di atas. Tembus ke bawah. Begitu sampai di lapisan "sabun" Formasi Rambatan, air tertahan. Tidak bisa lewat. Akibatnya? Lapisan itu jadi pelumas.
Tanah di atasnya beserta rumah, sekolah, dan masjidpelan-pelan meluncur ke bawah. Tergelincir di atas pelumas itu.
Ada satu lagi penjahatnya. Namanya indah: Montmorillonite.
Itu nama mineral lempung. Barangnya mikroskopis. Tidak kelihatan mata. Tapi kelakuannya ajaib. Mineral ini punya hobi: kembang-kempis.
Kalau musim kemarau, dia menyusut. Tanah jadi retak-retak lebar. Warga mungkin mengira itu biasa. Padahal itu jebakan.
Begitu musim hujan datang, air langsung masuk ke celah-celah retakan itu. Tanpa permisi. Langsung ke jantung tanah. Si Montmorillonite ini langsung minum air sepuasnya. Dia mengembang. Volumenya bisa naik drastis.
Kekuatan kembangnya (swelling pressure) luar biasa. Pondasi beton pun bisa diangkatnya. Dinding tembok bisa dipatahkannya.
Sudah tanah dasarnya licin, tanahnya sendiri kembang-kempis. Klop sudah.
Ditambah lagi, Padasari ternyata dilewati jalur Sesar Igir Nangka. Jalur patahan. Batuan di sana sudah "babak belur" duluan digerus patahan bumi sejak jutaan tahun lalu. Jadi, air makin mudah masuk.

Lantas, apa solusinya?
Banyak yang usul: "Pak, dibronjong saja!". Atau, "Pak, dipaku bumi saja!".
Secara teknik sipil, bisa. Apa sih yang tidak bisa dibangun insinyur sipil? Tapi masalahnya: Biaya dan Bukan solusi Permanen.
Menahan tanah creep yang bidang gelincirnya ada di kedalaman 15 meter itu bukan main-main. Harus pakai tiang pancang (bored pile) sedalam 20 meter lebih. Harus menembus si lapisan "sabun" tadi sampai ketemu batu keras. Jumlahnya harus ratusan titik.
Biayanya bisa lebih mahal daripada harga tanah dan bangunan satu desa. APBD Kabupaten Tegal bisa jebol hanya untuk satu desa. Itu namanya solusi yang tidak solutif.
Maka, rekomendasi laporannya tegas: Relokasi.
Terutama untuk yang di Zona Merah. Zona di mana kemiringan lereng curam dan tanahnya tebal lempung. Tidak ada tawar-menawar. Manusia harus mengalah.
Rumah di sana harus ditinggalkan. Jadikan hutan saja. Atau kebun buah. Akar pohon mungkin bisa sedikit membantu "memaku" tanah, walau tidak menjamin 100 persen.
Untuk jalan raya yang putus, mau tidak mau harus diperbaiki. Tapi jangan pakai aspal kaku lagi. Jangan pakai beton rigit. Pakai konstruksi fleksibel. Drainasenya yang paling penting. Air adalah musuh utama. Kalau air bisa cepat dibuang, tanah tidak sempat jadi bubur.
Padasari mengajarkan kita satu hal: tanah juga punya nyawa. Punya karakter.
Kita tidak bisa memaksakan kehendak di atas punggung naga yang sedang menggeliat. Pilihan bijaknya cuma satu: pindah ke tempat yang naganya sedang tidur nyenyak.
Semoga warga Padasari diberi ketabahan. Dan semoga para pengambil kebijakan berani mengambil keputusan pahit (relokasi) demi keselamatan jangka panjang.
Baca juga kesimpulan dan rekomendasi (klik)
Bukan sekadar menambal jalan yang bulan depan pasti retak lagi.

Oleh Hasan Rosyadi, MSc
Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Geologist handal dan memiliki integritas tinggi dalam pengembangan wilayah suatu daerah.
Sintesis ini saya susun dari berbagai sumber ada di notes komputer saya.
#Geologi #tegal #padasari #viral #kebumian